Minggu, 24 Juni 2012

MOMENTUM, DOA, DAN TRADISI MASYARAKAT MUNA


Sudah menjadi hal yang lumrah dalam sebagian masyarakat muna untuk merayakan hari-hari penting dalam kehidupan mereka terutama masalah keagamaan. Tradisi turun temurun itu telah dijaga dalam setiap keluarga yang ada dalam masyarakat. Tradisi yang susah dipahami oleh nalar manusia modern karena cerita yang penuh mistis dalam setiap perayaan terus dijalankan tanpa peduli dengan cemoohan generasi muda modern yang sudah belajar agama jauh-jauh dan mereka terkadang menganggapnya sebagai bid’ah, haram, sesat, atau kafir dan segala macam penghukumannya.

Tradisi baca-baca atau peringatan itu biasanya dilakukan pada malam 27 Rajab (Isra Mir’aj), malam 15 Syaban yang disebut dengan Nifsyu Syaban (jawaban lain adalah kelahiran Imam Mahdi), 1 Ramadhan (Awal Puasa), 15 Ramadhan (Malam Qunut), 17 Ramadhan (Turunnya Al Qur’an), untuk 21-29 ramadhan (Lailatul Qadr) lebih banyak melakukan doa’ sendiri tanpa ada baca-baca tapi makanan tetap disediakan dalam rumah dan tidak boleh dihabiskan, id’ fitri, 6 syawal, id’ adha,  10 Muharram, 12-17 rabiul awal (Pekan Maulid Nabi),. Itulah tradisi untuk mengenai hari-hari besar dalam Islam. Sedangkan tradisi lain adalah baca-baca ketika habis panen, Aqiqah Anak, Pengislaman Anak, setiap akhir tahun mata pelajaran bagi anak-anak yang sekolah, memasuki rumah baru yang ditinggali, pernikahan, ketika seseorang dari anggota keluarga akan pergi di luar kampung halamannya untuk pertama kalinya, hari ke tiga, ke tujuh, 20 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari dan tiap malam jum’at setelah tujuh hari sampai masuk pada hari ke 100 meninggalnya bagi seseorang.

Doa’ sebagai salah satu sarana untuk meminta/memohon kepada Tuhan begitu kuat pengaruhnya dalam kehidupan setiap umat manusia. Doa’ sebagai alat pengakuan akan kelemahan umat manusia dan kebergantungannya kepada tuhan telah menjadi nikmat tersendiri. Nikmat islam yang hadir dalam masyarakat telah menyatu dalam tradisi keislaman yang kemudian menjadi nikmat tersendiri. Ekspresi terhadap doa’ kepada Tuhan yang dilakukan dapat berbentuk akhlak yang baik dan pengabdian yang sering dilakukan oleh masyrakat. Jika masyarakat mempercayai kekuatan doa’ maka itulah jalan untuk memadukan antara permintaan kepada Tuhan dan ikhtiarnya sendiri terhadap segala aktivitas masyarakat.

Tradisi peringatan hari-hari besar dalam islam selalu diisi dengan acara “baca-baca” yang dipimpin oleh seorang Imam desa/kampung/dusun. Imam besar biasa dipanggil dengan gelar modhi kamokula, wakil imam besar biasa dipanggil dengan gelar modhi anahi. Imam besar dan wakilnya, pada waktu khusus mereka biasa bertugas untuk memimpin ibadah di masjid tua [masigino wuna] peninggalan kerajaan muna yang menjadi masjid kabupaten. Modhino desa [imam desa], modhino dusun [imam dusun] atau hatibi [khatib] mereka berperan di desa-desa yang diangkat berdasarkan sistem penunjukkan langsung dari tokoh-tokoh masyarakat setempat dan mereka berperan sebagai sistem dewan syara [dewan agama] dalam masyarakat.

Kembali pada pembahasan tradisi peringatan hari-hari penting dalam kehidupan setiap keluarga. Dalam tradisi baca-baca itu selalu tersedia makanan [biasa disebut haroa dan tidak bisa disamakan dengan sesajen] yang disediakan dalam bhosara yang biasanya dilapisi daun pisang sebelum ditempatkan aneka makanan khas buatan tuan rumah. Bhosara sebagai tempat nasi biasa selalu ditutupi dengan kain kerudung yang harus berwarna putih.

Dalam baca-baca itu biasanya imam akan memulainya dengan pertanyaan “daebhasagho ohae bhe ohaeno sokamesalontomu nekakawasa [kita mau membacakan apa dan apa permintaannya/hajatnya kita kepada Tuhan” kemudian tuan rumah akan menjawab “daebasa daesalogho nekakawasa [nama hajat; kaghosa, naolalesa radhakii, naewanta umuru, dll] (kita baca-baca untuk meminta hajat kepada Tuhan seperti kekuatan, kesehatan, keluasan rejeki, panjang umur dll)” kemudian sang Imam melanjutkan dengan penyampaian mulai dari tuan rumah sampai kepada khalayak yang hadir dengan kalimat “atumandamo aebhasa pada inia/abhasaemo pada [saya sudah akan mulai membaca/saya baca ini]” kemudian dijawab oleh keluarga dan khalayak yang hadir dengan kalimat “umbe [ya]” sebagai isyarat bahwa semua orang sudah paham dan semua orang yang hadir untuk menundukkan hati dan pikiran dan fokus pada bacaan-bacaan sang Imam.

Setelah itu Imam akan mulai dengan bacaan Syahadat dan istighfar yang kemudian dilanjutkan dengan bacaan Al qur’an yang biasanya surah YaaSiin kemudian dilanjutkan dengan bacaan Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir yang biasanya dibaca masing-masing 100 kali bahkan masing-masing bisa sampai 1000 kali. Kemudian dilanjutkan dengan membaca Doa’ dan dalam doa’ itu biasanya dibaca doa’ tolak bala dan doa’ permohanan rahmat atau hajat yang diinginkan dan doa’ untuk keluarga yang sudah pergi jauh, keluarga yang tidak hadir dan untuk arwah keluarga yang sudah meninggalkan dunia fana’. Kemudian sang imam akan menyentuh tempat nasi dan membacakan doa’ agar makanan itu menjadi berkah bagi keluarga dalam rumah itu. Kemudian sebagai penutup dalam doa’ itu adalah membaca surah Al fatihah dan dilanjutkan dengan salam-salaman dengan semua orang yang hadir dalam acara itu.

Pada akhirnya tradisi itu sebagai sebuah jalan bagi keluarga atau masyarakat muna untuk menjadi penyatu masyarakat, tradisi untuk berbagi dan saling mendoakan dan tradisi yang punya makna tersendiri bagi keluarga atau masyarakat muna. Inilah sebagian dari kearifan lokal yang kemudian beradaptasi dengan tradisi islam untuk  menunjukkan bahwa islam itu tidak bertentangan dengan budaya itu, yang terpenting adalah tujuannya hanya kepada Allah SWT. Seberapa kuatpun nalar manusia modern yang terkadang datang dan menghujat bahwa tradisi ini adalah tradisi jahiliyah, bid’ah, kafir, sesat dan segala macamnya tidak akan mampu menelaah lebih jauh apa yang terkandung didalamnya apabila tidak pernah merenungkannya lebih dalam.
       
Lakanaha, 14 Rajab 1433/4 Juni 2012
Pukul 07:12 WITA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar