Cari Blog Ini

Sabtu, 19 November 2011

FILSAFAT ISLAM


Dalam sejarah peradaban Islam, berbagai kedisiplinan ilmu muncul begitu cepat sesuai dengan tahap perkembangan duniawi dan berkembang terus sesuai dengan situasi dan kondisi, sehingga banyak pakar ilmuan dan tokoh-tokoh dalam Islam melahirkan pernik-pernik mutiara untuk dijadikan bahan rujukan oleh Ummat Sekarang dan dikagumi Oleh banyak lawan. Sejarah adalah pengetahuan tentang peristiwa peristiwa masa lampau, sedangkan Filsafat adalah Ilmu tentang berfikir sesuatu apapun untuk mencari kebenaran sesuatu tersebut.

Kalau kita perhatikan defenisi-defenisi yang telah diberikan oleh ahli-ahli filsafat kendatipun defenisi yang mereka berikan itu jauh berbeda-beda, namun dapat kita simpulkan bahwa berfilsafat itu ialah “berfikir”, dengan kata lain” Berfilsafat ialah berfikir sedalam-dalamnya secara bebas, dan teliti. Menurut penulis, seorang muslim boleh berfikir sedalam-dalamnya demi untuk menemukan sebuah kebenaran dengan ketentuan befikir yang tidak keluar dari garis-garis koridor logika dan syar’i. 

Kata filsafat Islam telah lama kita dengar, tetapi apa itu maknanya, lingkup, dan pandangannya, sepertinya masih harus didiskusikan. Oleh karena itu perlu mendiskusikan topik penting, yaitu: (1) Apa itu filsafat Islam? Dengan ini diharapkan pemahamanan kita tentang filsafat Islam dari sudut cita dan fakta bisa menjadi lebih baik dan bermakna.

1.         Apa itu Filsafat Islam?
Dalam buku yang berjudul wacana baru filsafat islam, ada beberapa pandangan tentang istilah filsafat Islam. Ada yang megatakan bahwa Islam tidak pernah dan bisa memiliki filsafat yang independen. Adapun filsafat yang dikembangkan oleh para filosof Muslim adalah pada dasarnya filsafat Yunani, bukan filsafat Islam. Ada lagi yang mengatakan bahwa nama yang tepat untuk itu adalah filsafat Muslim, karena yang terjadi adalah filsafat Yunani yang kemudian diterjemahkan dan dipelajari serta dikembangkan oleh para pemikir Muslim. Ada lagi yang mengatakan bahwa nama yang lebih tepat adalah filsafat Arab, dengan alasan bahwa bahasa yang digunakan dalam karya-karya filosofis mereka adalah bahasa Arab, sekalipun para penulisnya banyak berasal dari Persia, dan nama-nama lainnya seperti filsafat dalam dunia Islam.

Adanya sebutan atau penamaan filsafat Islam (Islamic philosophy), dengan setidaknya 3 alasan. Pertama: Ketika filsafat Yunani diperkenalkan ke dunia Islam, Islam telah mengembangkan sistem teologi yang menekankan keesaan Tuhan dan syari’ah, yang menjadi pedoman bagi siapapun. Begitu dominannya Pandangan tauhid dan syari’ah ini, sehingga tidak ada suatu sistem apapun, termasuk filsafat, dapat diterima kecuali sesuai dengan ajaran pokok Islam tersebut (tawhid) dan pandangan syari’ah yang bersandar pada ajaran tauhid. Oleh karena itu ketika memperkenalkan filsafat Yunani ke dunia Islam, para filosof Muslim selalu memperhatikan kecocokannya dengan pandangan fundamental Islam tersebut, sehingga disadari atau tidak, telah terjadi “pengislaman” filsafat oleh para filosof Muslim.

Kedua, sebagai pemikir Islam, para filosof Muslim adalah pemerhati filsafat yang kritis. Ketika dirasa ada kekurangan yang diderita oleh filsafat Yunani, misalnya, maka tanpa ragu-ragu mereka mengkritiknya secara mendasar. Misalnya, sekalipun Ibn Sina sering dikelompokkan sebagai filosof Peripatetik, namun ia tak segan-segan mengkritik pandangan Aristoteles, kalau dirasa tidak cocok dan menggantikannnya dengan yang lebih baik. Beberapa tokoh lainnya seperti Suhrawardi, Ibn Taymiyyah, juga mengkritik sistem logika Aristoteles.

Ketiga, adalah adanya perkembangan yang unik dalam filsafat islam, akibat dari interaksi antara Islam, sebagai agama, dan filsafat Yunani. Akibatnya para filosof Muslim telah mengembangkan beberapa isu filsafat yang tidak pernah dikembangkan oleh para filosof Yunani sebelumnya, seperti filsafat kenabian, filsafat pergerakan, filsafafat akhlak, mikraj dsb.

Berbeda dengan lingkup filsafat modern, filsafat Islam, sebagaimana yang telah dikembangkan para filosof agungnya, meliputi bidang-bidang yang sangat luas, seperti logika, fisika, matematika dan metafisika yang berada di puncaknya. Seorang filosof tidak akan dikatakan filosof, kalau tidak menguasai seluruh cabang-cabang filosofis yang luas ini. Ketika Ibn Sina menulis al-Syifa’, yang dipandang sebagai karya utama filsafatnya, ia tidak hanya menulis tentang metafisika, tetapi juga tentang logika, matematika dan fisika. Dan ia menulisnya sedeikian lengkap pada setiap bidang tersebut, sehingga kita misalnya memiliki beberapa jilid tentang logika, meliputi pengantar, kategori, analitika priora, analitika posteriora, topika, dialektika, retorika, sopistika dan poetika. Sedangkan untuk matematika, ia menulis beberapa jilid meliputi, aritmatika, geometri, astronomi dan musik. Untuk fisika, ia juga menulis beberapa jilid yang meliputi bidang kosmologi, seperti tentang langit, meteorologi, kejadian dan kehancuran yang menandai semua benda fisik, tentang batu-batuan (minerologi), tumbuh-tumbuhan (botani), hewan (zoologi), anatomi, farmakologi, kedokteran dan psikologi. Dan sebagai puncaknya ia menulis tentang metafisika (al-‘ilm al-ilahi) yang meliputi bidang ketuhanan, malaikat dan akal-akal, dan hubungan mereka dengan dunia fisik yang dibahas dalam bidang fisika.

Pembicaraan tentang lingkup filsafat Islam ini perlu dikemukakan, berhubung banyaknya kesalahpahaman terhadapnya, sehingga filsafat Islam dipahami hanya sejauh ia meliputi bidang-bidang metafisik. Kebanyakan kita hanya tahu Ibn Sina sebagai filosof, dan hanya mempelajari doktrin dan metode filsafatnya. Sedangkan Ibn Sina sebagai ahli kedokteran, ahli fisika, atau dengan kata lain sebagai saintis dan metode-metode ilmiah yang digunakannya sama sekali luput dari perhatian kita. Jarang sekali, kalau tidak dikatakan tidak ada, pemikir filsafat Islam di negeri ini yang pernah meneliti teori-teorinya tentang fisika, psikologi, atau geometri, astronomi dan musiknya. Tidak juga kedokterannya yang sangat dikenal di dunia Barat berkat karya agungnya al-Qanun fi al-Thibb. Hal ini terjadi, karena selama ini filsafat hanya dipahami sebagai disiplin ilmu yang mempelajari hal-hal yang bersifat metafisik, sehingga fisika, matematika, seolah dipandang bukan sebagai disiplin ilmu-ilmu filsafat.         

Satu hal lagi yang perlu didiskusikan dalam mengenal filsafat Islam ini adalah pandangannya yang bersifat integral-holistik. Filsafat Islam mengakui, sebagai sumber ilmu, bukan hanya pencerapan indrawi, tetapi juga persepsi rasional dan pengalaman mistik. Dengan kata lain menjadikan indera, akal dan hati sebagai sumber-sumber ilmu yang sah. Akibatnya terjadilah integrasi di bidang klasifikasi ilmu antara metafisika, fisika dan matematika, dengan berbagai macam divisinya. Demikian juga integrasi terjadi di bidang metodologi dan penjelasan ilmiah. Karena itu filsafat Islam tidak hanya mengakui metode observasi, sebagai metode ilmiah, sebagaimana yang dipahami secara eksklusif dalam sains modern, tetapi juga metode burhani, untuk meneliti entitas-entitas yang bersifat abstrak, ‘irfani, untuk melakukan persepsi spiritual dengan menyaksikan (musyahadah) secara langsung entitas-entitas rohani, yang hanya bisa dianalisa lewat akal, dan terakhir bayani, yaitu sebuah metode untuk memahami teks-teks suci, seperti al-Qur’an dan Hadits. Oleh karena itu, filsafat Islam mengakui keabsahan observasi indrawi, nalar rasional, pengalaman intuitif, dan juga wahyu sebagai sumber-sumber yang sah dan penting bagi ilmu.

Hal ini penting dikemukakan, mengingat selama ini banyak orang yang menolak filsafat dan tasawuf sebagai tidak bermakna. Atau ada juga yang telah merasa menjadi filosof, lalu menyangkal keabsahan tasawuf, dengan alasan bahwa tasawuf bersifat irrasional. Atau ada juga yang telah merasa menjadi Sufi lalu menganggap tak penting filsafat dan sains. Dalam pandangan filsafat Islam yang holistik, ketiga bidang tersebut diakui sebagai bidang yang sah, yang tidak perlu dipertentangkan apa lagi ditolak, karena ketiganya merupakan tiga aspek dari sebuah kebenaran yang sama. Sangat mungkin bahwa ada seorang yang sekaligus saintis, filosof dan Sufi, karena sekalipun indera, akal dan hati bisa dibedakan, tetapi ketiganya terintegrasi dalam sebuah pribadi. Namun, seandainya kita tidak bisa menjadi sekaligus ketiganya, seyogyanya kita tidak perlu menolak keabsahan dari masing-masing bidang tersebut, karena dalam filsafat Islam ketiga unsur tersebut dipandang sama realnya.

Pada saat ini, umat Islam telah dilanda berbagai persoalah ilmiah filosofis, yang datang dari pandangan ilmiah-filosofis Barat yang bersifat sekuler. Berbagai teori ilmiah, dari berbagai bidang, fisika, biologi, psikologi, dan sosiologi, telah, atas nama metode ilmiah, menyerang fondasi-fondasi kepercayaan agama. Tuhan tidak dipandang perlu lagi dibawa-bawa dalam penjelasan ilmiah. Misalnya bagi Laplace (w. 1827), kehadiran Tuhan dalam pandangan ilmiah hanyalah menempati posisi hipotesa. Dan ia mengatakan, sekarang saintis tidak memerlukan lagi hipotesa tersebut, karena alam telah bisa dijelaskan secara ilmiah tanpa harus merujuk kepada Tuhan. Baginya, bukan Tuhan yang telah bertanggung jawab atas keteraturan alam, tetapi adalah hukum alam itu sendiri. Jadi Tuhan telah diberhentikan sebagai pemelihara dan pengatur alam. Demikian juga dalam bidang biologi, Tuhan tidak lagi dipandang sebagai pencipta hewan-hewan, karena menurut Darwin (w. 1881), munculnya spesies-spesies hewan adalah karena mekanisme alam sendiri, yang ia sebut sebagai seleksi alamiah (natural selection). Menurutnya hewan-hewan harus bertransmutasi sendiri agar ia dapat tetap survive, dan tidak ada kaitannya dengan Tuhan. Ia pernah berkata, “kerang harus menciptakan engselnya sendiri, kalau ia mau survive, dan tidak karena campur tangan sebuah agen yang cerdas di luar dirinya. Oleh karena itu dalam pandangan Darwin, Tuhan telah berhenti menjadi pencipta hewan. Dalam bidang psikologi, Freud (w. 1941) telah memandang Tuhan sebagai ilusi. Baginya bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi manusialah yang menciptakan Tuhan. Tuhan, sebagai konsep, muncul dalam pikiran manusia ketika ia tidak sanggup lagi menghadapi tantangan eksternalnya, serti bencana alam dll., maupun tantangan internalnya, ketergantungan psikologis pada figur yang lebih dominan. Sedangkan Emil Durkheim, menyatakan bahwa apa yang kita sebut Tuhan, ternyata adalah Masyarakat itu sendiri yang telah dipersonifikasikan dari nilai-nilai sosial yang ada. Dengan demikian jelaslah bahwa, dalam pandangan sains modern Tuhan tidak memiliki tempat yang spesial, bahkan lama kelamaan dihapus dari wacana ilmiah. 

Tantangan yang lain juga terjadi di bidang lain seperti bidang spiritual, ekonomi, politik, ekologi dll. Tentu saja tantangan seperti ini tidak boleh tanpa kritik, atau respons kritis dan kreatif yang dapat dengan baik menjawab tantangan-tantangan tersebut secara rasional dan elegan, dan tidak semata-mata bersifat dogmatis dan otoriter. Dan di sinilah saya melihat bahwa filsafat Islam bisa berperan sangat aktif dan signifikan.

Berbeda dengan yang dikonsepsikan al-Ghazali, di mana filsafat dipandang sebagai lawan bagi agama, saya melihat filsafat bisa kita jadikan sebagai mitra atau pendukung bagi agama. Dalam keadaan di mana agama mendapat serangan yang gencar dari sains dan filsafat modern, filsafat Islam bisa bertindak sebagai pembela atau tameng bagi agama, dengan cara menjawab serangan sains dan filsafat modern terhadap agama secara filosofis dan rasional. Karena tantangan ilmiah-filosofis harus dijawab juga secara ilmiah-filosofis dan bukan semata-mata secara dogmatis. Dengan keyakinan bahwa Islam adalah agama yang menempatkan akal pada posisi yang terhormat, saya yakin bahwa Islam, pada dasarnya bisa dijelaskan secara rasional dan logis.

Selama ini filsafat dicurigai sebagai disiplin ilmu yang dapat mengancam agama. Ya, memang betul. Apaalagi filsafat yang selama ini kita pelajari bukanlah filsafat Islam, melainkan filsafat Barat yang telah lama tercerabut dari akar-akar metafisiknya. Tetapi kalau kita mempelajari filsafat Islam dan mengarahkannya secara benar, maka filsafat Islam juga adalah sangat potensial untuk menjadi mitra filsafat atau bahkan pendukung agama. Di sini filsafat bisa bertindak sebagai benteng yang melindungi agama dari berbagai ancaman dan serangan ilmiah-filosofis seperti yang dideskripsikan di atas.

Serangan terhadap eksistensi Tuhan, misalnya dapat dijawab dengan berbagai argument adanya Tuhan yang telah banyak dikemukakan oleh para filosof Muslim, dari al-Kindi, Ibn Sina, Ibn Rusyd, M. Taqi Misbah Yazdi dll., Serangan terhadap wahyu bisa dijawab oleh berbagai teori pewahyuan yang telah dikemukakan oleh banyak pemikir Muslim dari al-Ghazali, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Taymiyyah, Ibn Rusyd, Mulla Shadra dll.

Demikian juga serangan terhadap validitas pengalaman mistik dan religius, juga telah dijawab secara mendalam oleh Muhammad Iqbal dalam bukunya Reconstruction of Religiuous Thought in Islam dan Mehdi Ha’iri Yazdi dalam bukunya The Principle of Epistemology in Islamic Philosophy: Knowledge by Presence. Dalam kedua karya ini, Iqbal dan Yazdi telah mencoba menjelaskan secara filosofis tentang realitas pengalaman religius dan mistik, dan berusaha menjadikan pengalaman mistik sebagai salah satu sumber ilmu yang sah. Tentu saja masih banyak hal yang dapat dilakukan filsafat Islam untuk mendukung agama, yang tidak pada tempatnya untuk dijelaskan secara rinci di sini.

Selasa, 24 Mei 2011

Mendadak jadi "Pemadam Kebakaran”


Gerakan Negara islam Indonesia (NII) adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap Negara dengan kekuasaan yang sah dalam kondisi Negara yang sedang berjuang mengembangkan demokrasinya. Gerakan Perlawanan ini mempunyai cita-cita untuk mendirikan Negara yang landasan kehidupan berbangsa dan bernegaranya sesuai dengan prinsip-prinsip islam. 
NII sebagai sebuah gerakan tentunya mempunyai sejarah panjang dalam bermetamorfosa sehingga menghasilkan bentuk yang sering ditampilkan sekarang ini. Gerakan ini menggunakan berbagai cara untuk merekrut anggota diantaranya melalui “pencucian otak” yang sebenarnya menunjukkan ketidakmampuan orang menganalisis apa yang disampaikan orang ,lain, membayar uang, sampai pada baiat dan pelarangan untuk mengungkapkan aktivitas yang mereka jalani kepada orang-orang yang berada di luar lingkungan mereka.  
Gerakan NII yang berbasis di beberapa kampus daerah jawa sebagaimana yang ditengarai oleh aparat keamanan pemerintah tentunya menimbulkan banyak pertanyaan di dalam masyarakat Indonesia. Ada apa dengan kehidupan kampus hari ini dan kenapa yang terjerat gerakan NII adalah dari kalangan mahasiswa, sedemikian hancurnyakah institusi pendidikan tinggi sehingga gerakan NII bisa menjerat mahasiswanya?
Tentunya gerakan ini dikendalikan oleh banyak pihak dan gerakannya sangat rapi sehingga sangat susah dideteksi oleh aparat keamanan. Kondisi ini tentunya membuat pemerintah dan masyarakat menjadi resah dengan gerakan NII. Diskusi mengenai NII mulai dari media-media yang menghadirkan banyak pakar untuk mengulas gerakan ini.
Adanya gerakan NII ini membuat banyak pihak mendadak jadi “Pemadam kebakaran” dalam artian bahwa mulai dari instansi pemerintah, para pakar, orang-orang yang pernah keluar dari barisan NII, hingga masyarakat bawah mengomentari akan keberadaan NII yang mencoba melawan system yang sah di Negara ini. Mencuatnya gerakan NII dipermukaan tentunya memberikan pekerjaan baru untuk menjadi “pemadam kebakaran” bagi semua kalangan yang ada dalam masyarakat. 
Di banyak forum mulai di ruangan birokrasi kampus, ceramah agama, dan ruang-ruang diskusi kita akan melihat tentang analisis dari gerakan ini mulai dari perilaku penyesatan, pengkafiran dan sampai pada permasalahan lain yang dapat ditimbulkannya. Para orang tua, generasi muda maupun pemerintah di minta untuk waspada terhadap gerakan ini apalagi gerakan ini mengatasnamakan islam. Kondisi yang akan terjadi adalah masyarakat akan mewaspadai organisasi-organisasi islam apalagi generasi muda di tengah-tengah kehidupan yang serba modern.  
Adanya gerakan ini patut kita apresiasi karena telah membuka berbagai tabir kehidupan berbangsa diantaranya masalah system pendidikan yang dibangun selama ini karena kondisi ini mengindikasikan bahwa institusi pendidikan gagal membangun karakter manusia Indonesia, masalah ketidakadilan yang muncul dalam masyarakat, ketimpangan, pemerintahan yang sudah tidak mampu menjadi teladan dan pelindung bagi rakyatnya, dan perilaku para elit politik yang mengejar popularitas individu dengan mengorbankan orang banyak. Patut pula kita melihat mencuatnya gerakan ini sebagai konspirasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menghancurkaan organisasi-organisasi perjuangan yang berbasis keagamaan. 
Tapi jangan salah dengan mencuatnya gerakan NII kepermukaan banyak menutupi kasus-kasus lain mulai dari perilaku para elit politik yang terus memperjuangkan kepentingan mereka, kasus penangkapan anggota jaringan terorisme, korupsi yang melilit para elit politik, Sandra menyandra antara eksekutif, legislative¸yudikatif dan partai politik yang terus melanda negeri ini, kasus merpati, permasalahan konflik horizontal yang terjadi di dalam Negara ini sampai pada permasalahan ekonomi yang tidak pernah terselesaikan.  

Tamalanrea, 17 Mei 2011

TANAH UNTUK RAKYAT

Mencermati beberapa kasus sengketa lahan ataupun penggusuran bagi orang-orang kecil di Indonesia yang sangat jauh dari kekuasaan sangat menyedihkan, bagaimana di sebuah Negara yang sangat luas tapi masyarakatnya harus selalu bersedia untuk disingkirkan dari tanahnya. Kasus sengketa lahan antara petani dengan perusahaan di sumatera, jawa dan sulawesi yang sering muncul di media nasional merupakan sebuah ironi di Negara ini. Terlebih lagi kasus-kasus tanah yang tidak pernah terangkat di media massa nasional akhirnya akan berjuang sendiri untuk melawan penggusuran dan perampasan.
Pada khususnya di Kota Makassar seperti kasus tanah di tanjung bayang yang berhadapan dengan perusahaan besar di negeri ini, kasus kampung Bulogading yang berlawanan dengan sebuah perusahaan juga, kasus pasar Terong, kasus tanah di pandang Raya, penggusuran pedagang kaki lima (PKL) di Jln Pettarani dan masih banyak yang lain yang ada disudut-sudut kota sesungguhnya sudah merupakan sebuah pelanggaran yang dilakukan oleh beberapa pihak baik itu pemerintah, individu, maupun institusi, yang sangat ambisisus dalam membangun sebuah kepentingan entah itu kepentingan bisnis maupun pengejaran penghargaan adipura…
Sangat menyedihkan bagi sebuah Negara yang menjunjung tinggi hukum dan hak asasi manusia tetapi merekalah sebenarnya yang menginjak-injak dan menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan.. pemerintah yang seharusnya hadir sebagai pelindung bagi orang-orang yang tidak mampu bersaing dengan para pelaku ekonomi dunia yang sudah berada di kelas menengah ke atas, tapi justru merekalah yang datang menghabisi mereka..
Perusahaan-perusahaan yang hadir dalam masyarakat atau penduduk pribumi juga banyak menghadirkan masalah yang sangat tidak manusiawi misalnya kasus sebuah perusahaan pengembang pariwisata yang hadir dimana dalam melakukan aktivitasnya secara perlahan-lahan mencoba menggusur penduduk pribumi sebagaimana Israel menggusur penduduk palestina dan cara-cara beginipun digunakan oleh perusahaan. Banyaknya penggugatan terhadap tanah-tanah milik penduduk pribumi semakin memperkuat pertanyaan yang muncul misalnya kenapa perusahaan-perusahaan yang baru datang tiba-tiba mengklaim tanah yang ada? Pedagang kaki lima yang sudah lama berjualan tiba-tiba harus digusur dengan berbagai alasan termasuk menjalankan Undang-undang Negara serta peraturan Pemerintah Kota.
Negara yang telah diamanahkan untuk bertanggung jawab dalam memberikan penghidupan yang layak bagi masyarakat miskin dan melindungi mereka tapi justru hadir sebagai momok yang sangat menakutkan dengan semua bentuk alat-alat pressure dalam pemerintahannya. Mereka yang mencoba mempertahankan hidup sehari-hari malah harus terus bersedia untuk digusur dengan dalih ditertibkan demi keamanan dan keindahan kota yang mereka pimpin…
Dengan dalih penertiban dan keindahan kota sebenarnya penghalusan dari istilah penggusuran atau perampasan hak-hak masyarakat yang tidak masuk dalam golongan elit pemerintahan dan pengusaha kelas-kelas atas, karena mereka dianggap tidak mampu memberikan kontribusi besar dalam pembangunan ataukah mereka hanya menjadi beban bagi pemerintah. Inilah menjadi perhatian besar bagi kaum muda yang masih memiliki militansi untuk melawan segala bentuk arogansi pemerintah terhadap masyarakat kecil.
Inilah realita yang harus ditanggung anak-anak bangsa yang hanya mencari sesuap nasi untuk dirinya dan keluarganya diatas bumi ibu pertiwi, mereka tidak bisa hidup tenang dengan penghidupan seadanya yang halal dalam mendapatkannya. Inilah mungkin makna ungkapan kalau didalam pembangunan yang harus dipertahankan adalah orang-orang kuat dan harus disingkirkan adalah orang-orang lemah karena mereka cenderung menjadi beban bagi Negara dan pemerintahnya..
Hadirnya pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini tentunya sangat diharapkan oleh masyarakat kecil, entah dalam bentuk pemberian tempat bagi mereka yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima karena mereka tentunya tidak mampu untuk membeli toko-toko yang ada dipasar modern sebagai tempat mereka beraktivitas dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu regulasi bukan untuk menghancurkan mereka tetapi untuk menyelamatkan mereka. Kalau bukan begitu sudah pasti pemerintah sujud dibawah para pemilik modal dan itulah realita yang terjadi di negeri ini yang kaya raya akan sumber daya.

Pemberontakan terhadap pemimpin yang zalim adalah sebuah keharusan dalam masyarakat yang tercerahkan…..

Usman Saleh La Ede
Tamalanrea, 3 November 2010- diperbaharui tanggal 17 mei 2011

Rabu, 13 April 2011

Untukmu Para Pengkader

"Jikalau raga diciptakan untuk menyongsong kematian,
maka kematian di ujung pedang di jalan Allah
jauh lebih baik dan mulia ketimbang mati di atas ranjang. (Imam Hasan)"

Pengkaderan sebagai proses transformasi nilai-nilai Ilahiah yang suci dan sangat mulia yang dipahami didalam sebuah kehidupan sangatlah penting karena akan membawa dampak jangka panjang bagi kehidupan seseorang. Sedangkan dalam artian jangka pendeknya pengkaderan sebagai proses regenerasi disebuah lembaga..

Pengkaderan di lembaga kemahasiswaan yang seharusnya menjadi ajang untuk menyampaikan spirit perjuangan Illahiah dalam menyempurna serta dalam melawan segala bentuk penindasan, tapi justru disalahgunakan menjadi ajang untuk hura-hura, kekerasan, doktrin yang tidak menyehatkan (baca: menyesatkan) bagi orang-orang yang mengikutinya.

Setidaknya inilah kondisi yang masih terjadi di fakultas ekonomi unhas walaupun sudah berkurang tetapi terus dipertahankan oleh para pengkader musiman yang tidak jelas apa inti dari perbuatannya. Untuk itulah para pengkader harus evaluasi diri didalam melakukan aktivitasnya terhadap orang lain. Pengkaderan sebagai kerja-kerja kenabian sebagaimana yang ditunjukkan oleh semua nabi yang pernah ada dimuka bumi ini yang hanya mengajak manusia pada kebaikan dan kebenaran serta perlawanan terhadap segala bentuk pembodohan yang ada dalam masyarakat..

Para pengkader harus ingat bahwa apa yang mereka telah sampaikan kepada orang lain dan harus mampu dipertanggungjawabkan kepada individu yang dikader, masyarakat umum maupun Tuhan bagi orang-orang yang masih beragama. Pengetahuan itu adalah milik Tuhan dan harus disampaikan bagi kebaikan umat untuk digunakan sebagai perlawanan terhadap aktivitas yang betentangan dengan nilai-nilai Illahiah. Pengetahuan dan kecerdasan yang pernah para pengkader tunjukkan kepada teman-temannya, adik-adiknya harus mampu dipertanggungjawabkan karena jangan sampai pengetahuan itu hanya menjadi sebatas konsep yang tidak pernah dijalankan dan hanya menjadi sampah dalam kepala. Ketika dia menjadi sampah maka tentunya akan busuk sendiri dan tidak berguna lagi.

Isi kepala (Baca: pengetahuan) para pengkader seharusnya lebih kuat dan terus di isi ternyata hanya musiman dan inilah para pengkader musiman yang sangat pragmatis, oportunis (Baca: aktualisasi diri supaya dikatakan cerdas) dan tidak punya orientasi yang jelas dan tentunya hasilnya akan menyesatkan karena pengkader itu sendiri tidak paham apa yang dia sampaikan kepada orang lain. Maka lahirlah para binaannya seperti kelompok ternak yang tidak tahu apa tujuan dari semua rangkaian aktivitas yang mereka lakukan.

Oleh karena itu para pengkader harus memperhatikan dan menjawab banyak pertanyaan: kenapa harus ada pengkaderan?, kenapa pengkaderan sangat lama? Kenapa para pengkader dalam kehidupan sehari-hari hampir tidak sejalan dengan apa yang di dakwahkannya? Kenapa banyak para pengkader di luar kampus mengingkari nilai-nilai pengkaderan yang pernah dijalani bersama? Kenapa banyak para pengkader yang jarang banyak buku? Mereka menyuruh demo tapi mereka sendiri yang tidak menjalankan? idealisme pengkaderan hilang pasca kampus dan menjadi berkompromi dengan keadaan. Inilah sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh seorang pengkader. Pengkaderan bukanlah ketundukan dan kepatuhan pada senior, tapi pengkaderan adalah ketundukan pada nilai-nilai Ilahiah. 

Munculnya pertanyaan-pertanyaan diatas mengindikasikan kita tidak mampu memahami nilai-nilai atau filosofi dan kekuatan ikatan moral yang dibangun dalam lembaga dan komunitas pengkaderan. Karena dalam menjalani pengkaderan para pengkader pasti punya liku-liku ditengah godaan dunia materi yang sangat menggila, antara mementingkan pacar atau pasangan hidup, antara mementingkan orang tua walaupun tidak benar, dan mementingkan perjuangan membebaskan masyarakat dari penindasan dan penyesatan pemikiran hanya untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Perlu dipahami bahwa proses yang begitu panjang dalam pengkaderan menjadikan kita untuk memahami gerak kehidupan yang begitu dalam karena perjuangan. Olehnya itu belajarlah untuk mencintai kehidupan dan perjuangan pembebasan serta pencerahan masyarakat, niscaya hidup akan menjadi lebih hidup.

Kepemimpinan Transformatif


Penguasa adalah pelindung dan rakyat adalah pengikutnya. Ia harus menolong dan menyelamatkan mereka tidak mengeksploitasi dan merusak mereka. Apakah penguasa untuk pelindung rakyat atau rakyat pelindung bagi penguasa??

Ketidakjelasan kondisi kepemimpinan yang akan berpihak terhadap kepentingan masyarakat luas di bangsa ini dan terjadinya kekosongan akan namanya keadilan dan kejujuran didalam kepemimpinan yang terus mewarnai perjalanan berbagai aturan dan sistem hukum yang diberlakukan di Indonesia. Mulai dari ORBA (Orde Baru/Orde Bandit) berkuasa, yang telah menjadi penyebab awal dan mendasar bagi terjadinya krisis pemimpin dan kepemimpinan sampai hari ini. Krisis kepemimpinan di bangsa ini menyangkut sulitnya kita menemukan para pemimpin, terkhusus lagi pada pemimpin formal, yang telah diberi amanah kepemimpinan publik melalui sistem dan proses politik/rekrutmen pemimpin dalam hal ini pemilu, yang mampu dan mau berpikir dan berbuat demi kepentingan kebenaran dan penegakan keadilan bagi seluruh rakyat.

Segala kegagalan pemimpin dan kepemimpinan hingga hari ini justru lebih disebabkan karena para pemimpin telah terperangkap dalam ketidakmampuannya memperlakukan orang lain sebagaimana memperlakukan dirinya sendiri (egois). kepemimpinan yang dibangun sampai hari ini kepemimpinan yang berjarak antara para pemimpin/penguasa dengan rakyatnya. Dalam hal ini, para pemimpin bangsa ini baik pusat maupun daerah beranggapan, bahwa kedekatan dirinya sebagai pemimpin dengan rakyat adalah sesuatu yang akan mengganggu pemenuhan kepentingannya, kecuali segelintir tim suksesnya.

Fenomena wajah kepemimpinan bangsa Indonesia sampai hari ini, membuat para pemangku jabatan dalam hal ini pemimpin/penguasa yang sedang berkuasa cenderung untuk terus mempertahankan kekuasaan yang telah diraihnya dengan segala cara walaupun ia telah gagal dalam membangun masyarakatnya.  Sementara, para elit pemilik modal ekonomi, sosial dan politik yang belum berkuasa, berebutan untuk menjadi penguasa, juga dengan menghalalkan segala cara (Misalnya Abu Rizal Bakrie).

Para pemimpin bangsa Indonesia hari ini sudah tidak mampu untuk keluar dari lingkaran ego diri menuju lingkaran-lingkaran altruisme terus berkembang meluas secara dinamis (ego semesta). Dalam konteks ke Indonesiaan kita terus menyaksikan perkembangan sosial ekonomi masyarakat yang bergerak ke arah lebih buruk dan terus lebih buruk dari masa ke masa. Dan akhirnya, nyaris semua orang menjadi egois, dengan hanya memikirkan keselamatan diri mereka sendiri belaka (lihatlah beberapa fenomena masyarakat yang ada di pinggiran ataupun “masyarakat pinggiran” yang ada ditengah-tengah kota).

Tantangan masa depan kita semua (mahasiswa) sebagai masyarakat yang jauh dari kekuasaan formal saat ini adalah bagaimana kita melakukan transformasi paradigma kepemimpinan yang sangat egois saat ini menjadi kepemimpinan yang memiliki kelapangan dada untuk berjuang untuk kepentingan masyarakat yang dipimpinnya (kepemimpinan transformatif). Bukanlah sekedar menjadi pemimpin yang hanya membutuhkan “kepatuhan bodoh” dari masyarakatnya, yang sangat cepat tersinggung, dan mengeluh kepada masyarakat serta merasa di zalimi saat kritik dialamatkan pada kepemimpinannya yang picik (Rezim SBY-Boediono). 

Untuk itu, masyarakat sekarang, dan hari-hari besok butuh figur kepemimpinan transformatif yang menguasai masalah secara lintas disiplin dan sektor, dengan segala krisis yang hari ini masih eksis di dalamnya. Meminjam bahasanya Marya Kash dalam Kepemimpinan Loyalitas Dan manajemen “pemimpin harus rela menjadi pendengar yang baik, kreatif dan produktif terhadap berbagai aspirasi, kritik dan keluh-kesah rakyatnya”. Untuk kemudian, dapat dianalisis secara cermat, kritis, jujur dan dirumuskan menjadi sebuah sistem dan kebijakan bagi terbangunnya manajemen perubahan ke arah positif. Perubahan ini pertama-tama tentu menyangkut mindset masyarakat di semua lapisannya, terutama di lapisan elitenya, yang lebih banyak muatan negatifnya. Ketika kehadiran sosok kepemimpinan yang transformatif tidak ada, Maka kemakmuran dan keadilan hanya bagi para penguasa, yang memperkaya diri dengan cara-cara yang salah, dan nista. Sementara masyarakat umum akan terus terjebak dalam kemelaratan dan penderitaan yang berkepanjangan Maka kita dalam jangka panjang butuh sebuah revolusi, walaupun kondisi hari ini tampak semakin jauh saja kemungkinan akan terjadinya.

Mencari Model Manajemen Indonesia


Manajemen adalah sebuah proses yang dilakukan untuk mencapai sesuatu (hal yang menjadi tujuan) secara efektif dan efisien. Manajemen sebagai sebuah pengetahuan atau ilmu tentunya punya ruang lingkup atau batasan yang jelas sehingga dalam pengaplikasiannya dapat teraplikasikan dengan benar dan baik. Banyak orang telah mendefenisikan tentang manajemen itu sendiri tetapi tentunya harus juga melihat dalam konteks apa pengetahuan tentang manajemen itu digunakan. Kontekstualisasi ilmu atau pengetahuan tentang manajemen akan membawa teori manajemen itu dapat diaplikasikan dengan tepat. Polemik yang terjadi sekarang adalah teori manajemen yang dilahirkan oleh negara-negara barat khususnya Amerika dan Eropa serta negara-negara Asia khususnya Jepang dengan Cina punya kontekstualisasi tersendiri sehingga dapat diimplementasikan dengan benar. Bagaimana dengan Indonesia?     

Kalau melihat indonesia sendiri dengan semua fakta yang ada di lapangan tentunya kita akan melihat sejauh mana ilmu atau pengetahuan tentang manajemen yang di adopsi dari luar dan diterapkan di dalam negeri ini. Pertanyaan yang muncul adalah: apakah teori manajemen yang diadopsi dari luar bisa dipraktekan di semua lini kehidupan di Indonesia? Padahal Indonesia adalah negara dengan berbagai macam kultur yang berbeda dan punya pendekatan tersendiri. Manajemen seharusnya sebagai sebuah ilmu yang tidak kaku tetapi dinamis sehingga dapat diimplemenatasikan sesuai dengan kondisi di mana akan diterapkan.

Ilmu atau pengetahuan tentang Manajemen selalu menekankan pada aspek proses, fungsi fundamental dari manajemen, arah dari proses yang ada, serta unsur-unsur yang menopang ilmu atau pengetahuan manajemen. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu manajemen tidak terlepas dari empat hal di atas yang menjadikannya sebagai sebuah ilmu yang mudah untuk diterapkan sesuai dengan kondisi yang ada.

Ilmu manajemen yang diterapkan di negara-negara barat, dan timur (Jepang dan Cina) tentunya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ilmu manajemen di negara-negara barat mempunyai kelebihan, diantaranya; efisiensi, disiplin, sadar akan waktu serta penghormatan pada inisiatif individu dan tentunya punya kelemahan di mana manusia diperlakukan seperti mesin, masyarakatnya yang konsumtif. Sedangkan ilmu manajemen yang diterapkan di negara-negara asia dalam hal ini Jepang dan Cina. Ilmu manajemen di Cina memiliki kelebihan pada memegang teguh janji, ulet, tekun, hormat dan solidaritas kelompok. Sedangkan kekurangannya adalah kikir, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, tertutup dan terlalu materialistis. Konsep manajemen yang diterapkan di Jepang memiliki kelebihan sebagai berikut; solidaritas terhadap kelompok perusahaan sangat tinggi, dedikasi, kesetiaan, disiplin diri, nasionalisme yang sangat tinggi, penghormatan terhadap yang lebih senior. Kekurangannya adalah opportunities, binatang ekonomi, sangat tertutup dan agak angkuh.

Keunggulan dan kelemahan yang dimiliki oleh manajemen barat maupun timur yang dipaparkan diatas tentunya harus dievaluasi ulang karena kondisi tahun 1979 ketika keunggulan dan kelemahan itu dipaparkan tentunya berbeda dengan kondisi yang ada sekarang. Pada kondisi kekinian, semua negara telah membuka akses perdagangan internasional seluas-luanya dan globalisasi telah menjadi sebuah keniscayaan dan meniscayakan pula globalisasi ilmu pengetahuan dalam hal ini manajemen, maka secara otomatis tidak ada lagi ilmu manajemen yang tertutupi dan semua orang bisa mengetahui bagaimana mereka (Eropa Barat dan Jepang serta China) mengelola organisasi dari yang terkecil pun sampai pada yang lebih besar sesuai dengan prinsip manajemen yang mereka miliki.

Semua organisasi dari yang kecil sampai organisasi yang besar, sudah sebuah keniscayaan menerapkan efisiensi, kedisiplinan, nasionalisme, efektivitas, solidaritas dan penghargaan terhadap individu sebagai manusia. Ini adalah hal yang sangat fundamental dan diterapkan di organisasi manapun terlepas dari kelemahan yang ada karena tergantung dari kodisi yang ada. Terlebih lagi bahwa orientasi dari berdirinya perusahaan sebagai organisasi profit adalah untuk mencari keuntungan yang banyak. Prinsip materialisme dengan mengejar keuntungan yang banyak dengan modal sedikit adalah sudah menjadi ciri organisasi profit yang ada. Terlebih lagi kalau melihat bagaimana di instansi pemerintahan menerapkan manajemen adalah kita akan menemukan orientasi material yang dijalankan.

Kalau melirik konsep manajemen yang diterapkan di Indonesia, maka kita akan melihat realitas yang ada dilapangan, karena segala fakta yang ada di lapangan tentunya tidak terlepas dari konsep yang dibangun dan dipahami oleh orang-orang yang menjalankan roda organisasi itu sendiri. Inilah fakta dengan teori yang ada yang akan membedakannya dengan negara lain. Indonesia belum menemukan konsep yang ideal tentang manajemen untuk mengelola institusiya.

Carut marutnya institusi yang terbesar sampai pada institusi yang terkecil pun, dari  instansi negara yang tidak mengutamakan keuntungan material sampai pada perusahaan yang mengutamakan keuntungan material, itu menunjukkan bahwa konsep manajemen yang diadopsi dari Cina, Jepang ataupun Amerika dan Eropa barat dan dijalankan oleh organisasi di Indonesia akan sangat bermasalah. Kenapa hal ini bisa terjadi? Indonesia sebagai sebuah negara yang dibangun di atas berbagai macam suku bangsa tentu manusianya punya banyak macam karakter, dan budaya yang punya pendekatan berbeda untuk mengelolanya. Di sinilah tantangannya ilmu manajemen, apakah mampu menjawab permasalahan-permasalahan yang ada.

Panjangnya birokrasi yang ada di Indonesia menunjukkan bagaimana rumitnya Ilmu manajemen yang diterapkan. Seharusnya dengan hadirnya ilmu manajemen maka pekerjaan manusia akan semakin terarah dan tidak menyulitkannya dengan hadirnya ilmu manajemen. Sebagi contoh; bencana alam yang terjadi di Indonesia yang akan ditangani memiliki prosedur yang panjang sehingga sangat rumit dalam menanganinya. Administrasi kampus yang diurus walaupun sudah mengunakan model sistem pengendalian manajemen tapi itu sangat rumit. Artinya dengan model manajemen yang ada dan diadopsi itu sangat merumitkan kerja manusia itu sendiri yang seharusnya dengan kehadiran ilmu manajemen semakin mempermudah pekerjaan manusia.

Walaupun unsur-unsur manajemen bersifat universal, tetapi di dalam aplikasi kita harus memperhatikan kondisi yang ada. Implementasi dari unsur-unsur manajemen itu di dalam suatu aktivitas yang dijalankan akan dipengaruhi oleh budaya manusianya. Kalau melihat bagaimana organisasi modern dijalankan dengan model manajemen yang ada kita akan melihat hubungan manusia dengan manusia akan menjadi hubungan yang sifatnya mekanik dan hanya berhubungan pada wilayah perencanaan. Tetapi kalau melihat masyarakat indonesia hubungan yang ada di dalam organisasi adalah hubungan organik dan tidak terikat pada wilayah perencanaan saja. Manusia Indonesia tentunya punya ciri khas yaitu bertahan di dalam organisasi yang sifatnya organik bukan pada organisasi yang ikatanya adalah ikatan mekanik dan material. Manusia di dalam organisasi akan berhubungan juga sesuai dengan posisinya.

Terlepas dari ikatan-ikatan tadi, sebagian masyarakat Indonesia sudah beralih pada ikatan material dan sangat individualis dan akhirnya juga terjebak pada fokus penyelesaian tugas masing-masing dan inilah yang menjadi titik ikatan material dan mekanik yang dibangun diorganisasi yang ada di Indonesia. Selain itu kita akan melihat bagaimana sebenarnya budaya organisasi yang dibangun di Indonesia. Indonesia yang sangat popular dengan budaya tradisionalnya, misalnya, musyawarah, ikatan kekerabatan, kerukunan, dan hierarkis. Ini juga menjadi faktor terpenting yang harus dijaga untuk melepaskan manusia Indonesia dari ikatan-ikatan material dan mekanik.

Ada hal yang sebenarnya tidak pernah dilihat dalam pengelolaan organisasi adalah piagam madinah. Di situ akan diperlihatkan bagaimana nabi Muhammad SAW menjadi pemimpin negara dengan berbagai macam suku atau kabilah yang ada dan menyatukan mereka untuk mencapai tujuan negara yang madani. Menurut saya, kalau melihat hal itu sebenarnya bisa menjadikannya rujukan untuk merumuskan sebuah teori manajemen yang bisa diterapkan di Indonesia yang multikultural.

Dari penjelasan semua di atas, saya akan mengambil kesimpulan bahwa; manajemen sebagai sebuah ilmu tidaklah kaku atau statis tetapi manajemen adalah ilmu yang dinamis dengan prinsip-prinsip yang universal. Implementasi ilmu Manajemen di Indonesia tentunya akan berbeda dengan implementasi ilmu manajemen yang ada di Cina, Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa barat dan di sninilah dinamisnya ilmu manajemen. Selain itu dengan prinsip manajemen organisasi akan menerapkan dua strategi yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Indonesia masih terjebak pada strategi jangka pendek dalam menjalankan atau mengimplementasikan ilmu manajemen, contohnya adalah strategi pembangunan yang sifatnya hanya jangka pendek tanpa merencanakan apa yang terjadi di masa yang akan datang.

Sabtu, 21 Agustus 2010

MANAJEMEN DIRI MENGGAPAI HIKMAH PUASA

Puasa pada umumnya telah dilaksanakan sejak lama sebelum Nabi Muhammad Saw. menerima wahyu puasa. Bahkan dalam sejarah agama-agama besar, puasa sudah tidak asing lagi dalam tataran syariat mereka. Universalitas puasa bisa dimengerti karena esensi dari puasa itu sendiri bukan "mengerjakan" melainkan "menahan diri", yakni menahan diri dari makan dan minum, tidak melakukan seksualitas di siang hari dan menghindari sikap hewani yang merusak, serta dianjurkan ibadah pada malam harinya karena sesungguhnya bulan Ramadan adalah bulan yang mulia, sumber segala rahmat dan kebaikan. Bagi orang beriman, kerja keras bukanlah suatu tuntutan karena adanya pengawasan dari atasan. Puasa akan mendidik orang tetap bekerja meski tidak diawasi manusia. Belajar untuk berdisiplin dalam segala hal bukan berarti kita menyiksa diri sendiri, namun belajar sabar dan bahagia.
Waktu sangat mulia kedudukannya bagi umat manusia sehingga umat manusia selalu dituntut untuk memperhatikan waktu. Ada sebuah ungkapan yang sering kita dengarkan yang kira-kira seperti ini bunyinya; “Hiduplah di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang menyeberang jalan. Dengan manajemen waktu yang baik selama Ramadhan, diharapkan seseorang menjadi orang yang disiplin, tepat waktu dan menghargai waktu dengan harga yang sangat mahal. Selain itu dengan hati yang bersih, seorang mukmin memulai puasa Ramadhan dan melaksanakan semua amaliyah dengan niat yang ikhlas yaitu mendapatkan ridha Allah swt. semata. Intinya adalah kesabaran bagi orang yang menjalankannya.
Sementara itu, dalam realita kehidupan masyarakat muslim kita akan menjumpai peningkatan anggaran belanja selama bulan Ramadhan melebihi bulan-bulan sebelumnya. Peningkatan itu ’biasanya’ digunakan untuk meningkatkan menu berbuka dan sahur, mempercantik rumah, membeli makanan dan minuman untuk hidangan tamu iedul fitri, ongkos transportasi mudik plus oleh-olehnya, pakaian hari raya dan lain-lain. Dengan demikian, diperlukan manajemen keuangan yang tepat selama bulan Ramadhan.
Puasa ramadhan mengandung nilai-nilai edukatif yang dapat menciptakan keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian bagi umat manusia. Dan juga sebagai bulan perjuangan di mana manusia dihadapkan pada perjuangan yang amat besar. Mereka menahan diri dari perbuatan yang biasa diperbuat, selain menahan diri dari "ritual" makan dan minum sebagai kebutuhan primer, sejak fajar sampai terbenam matahari. Bukankah masalah perut (makan dan minum) juga pemicu timbulnya penyakit jiwa?
Selain itu kita dapat mengadaptasi diri kita dengan mereka yang berekonomi lemah yang sering merasakan haus dan lapar, sehingga akan timbul rasa kasih sayang dan ketajaman sosial serta menjadi pengalaman rohani tersendiri. Mungkinkah kasih sayang tidak tumbuh ketika pemandangan itu terjadi di depan mata kita?
Dalam konteks yang paling rendah kehausan dan kelaparan akan berpengaruh pada kepekaan sosial, mengingatkan kita pada kaum fakir miskin sehingga termanifestasi dengan memperbanyak sedekah sebagai rasa solidaritas social. Imbasnya terjembatanilah antara the have dan the have not, di mana pada titik akhirnya akan tercipta SDM yang mempunyai etika dan kepekaan sosial yang tinggi.
Esensi ajaran Islam tidak mengajarkan manusia bersikap masa bodoh terhadap masyarakat lingkungan lebih-lebih terhadap mereka yg hidup kekurangan dan miskin. Secara fisik dengan berpuasa seseorang harus mampu mengendalikan nafsu sekularitas hedonistis egoistis maupun sikap hidup kompetitif konsumtif agar hidup ini senantiasa dihayati sebagai rahmat dan ni’mat dari Allah SWT. Secara psikologis seseorang yg berpuasa Ramadan menyatukan dirinya dalam kondisi penderitaan akibat rasa lapar dan haus yg selama itu lebih banyak diderita oleh fakir miskin yg dalam hidupnya selalu terbelenggu oleh kemiskinan. Kesadaran fitrah manusia saat ini diharapkan mampu membentuk rasa keterikatan jiwa dan moral utk memihak kepada kaum dhuafa fakir miskin. Pendekatan ini harus diartikulasikan pada pola pikir dan pola tindak ke dalam bingkai amal saleh mampu melebur ke dalam pola kehidupan kaum mustadh’afin. Seperti contoh membebaskan budak masyarakat kecil dan golongan lemah yg tertindas dgn membangkitkan ‘harga diri’ dan nilai kemanusiaan. “begitu banyak orang berpuasa tapi yg dihasilkannya hanya rasa lapar dan haus semata-mata.” puasa Ramadan bukan sekadar menahan rasa lapar dan haus menahan nafsu dan keinginan hedonistis melainkan secara esensial mengandung makna penghayatan rohani amat yg dalam yakni ekspresi jiwa dan konsentrasi mental secara utuh dan solid di mana sendi-sendi mental dan jiwa terperas ke dalam fitrah diri meluruskan disiplin pribadi dengan baik.

BUNGA, LILIN dan MULUT

Ada yang mengirim bunga ada yang membakarnya,  Ada yang menyalakan lilin ada yang memadamkannya,  Semuanya tersulut dari mulut kebencian. ...