Cari Blog Ini

Senin, 09 Januari 2012

TRAGEDI BERDARAH OLEH KEPOLISIAN


Assalamualaiku. Wr.Wb.
Kehancuran atas kezaliman, penguasa yang lalim dan tegaklah kebenaran dan keadilan. 

Masih hangat dan Belum tuntas tragedi di Freeport papua, pembubaran paksa kongres papua, pembantaian Mesuji, kini pihak kepolisian Republik Indonesia harus kembali melakukan pembantaian terhadap masyarakat di Bima, Nusa Tenggara yang mengakibatkan dua orang tewas tertembak dan sebelas lainnya terluka ketika terjadi penembakkan terhadap aksi protes yang dilakukan oleh warga di Pelabuhan Sape, Bima. Konflik yang melibatkan antara perusahaan perkebunan, pertambangan dengan masyarakat yang terus melibatkan kepolisian juga semakin memperjelas keberpihakan polisi bukan pada masyarakat Indonesia tapi pada perusahaan. Asset negara yang dijaga bukanlah manusianya tapi benda-benda material yang justru terus membuat konflik antara masyarakat dan kepolisian. Hal ini tentu menambah daftar hitam kejahatan kepolisian di mata masyarakat Indonesia. Masih banyak kasus pelanggaran oleh kepolisisan yang belum terselesaikan kini masyarakat kembali digeramkan dengan kasus yang sama. Pertanyaannya kepada siapa polisi Indonesia berpihak dan bagaimana prosedur pengendalian massa?

Disamping kasus Mesuji, Bima, tentunya masyarakat masih mengingat kasus Freeport ketika diberitakan bahwa pihak kepolisian menerima dana dari Freeport. Entah untuk keperluan apa uang tersebut, secara etik hal tersebut tidak ada pembenarannya. Memberikan sejumlah uang kepada pihak kepolisian bisa membuat mereka menjadi tidak netral dan cenderung bergeser ketika ada permasalahan masyarakat. Struktur pihak keamanan yang biasanya dikomandoi oleh seseorang. Jika komandannya menyatakan tembak, maka orang-orang di bawahnya juga akan melakukan hal yang sama. Masyarakat harus mengingat bahwa Polisi itu berasal dari masyarakat, sama dengan seorang presiden atau anggota DPR atau birokrasi lainnya. Pada mulanya mereka adalah rakyat biasa dan mereka telah memilih jalan untuk terjun sebagai polisi. Di dalam pilihan ini, mereka seyogyanya bertanggung jawab baik secara institusional dan secara sosial. Mereka adalah pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat bukan sebagai penindas masyarakat. 

Polisi yang mudah disogok dan memihak kepada pemilik modal dan melakukan penembakan kepada warganya sendiri adalah polisi yang kehilangan kemanusiaan. Kemanusiaannya  telah dikuasai oleh hasrat untuk berkuasa dan untuk memiliki uang banyak. Akibatnya adalah hilangnya rasa kepemilikannya kepada masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Solidaritas dan kepemilikan itu adalah sebagai pengikat dalam hubungan sosial. Masyarakat miskin yang menjadi korban kebrutalan kepolisian tentu tidak mampu membayar sejumlah uang yang lebih besar untuk mendapatkan perlindungan. Melindungi,mengayomi dan melayani masyarakat harus diartikan bahwa polisi dalam keadaan netral, harus bisa mencegah adanya tindakan sewenang-wenang dari pihak pemilik modal kepada masyarakat. Ini berarti pemilik modal bisa menjalankan usahanya tanpa mencemari ataupun merusak nilai-nilai dan tradisi yang dipegang masyarakat sekitar. Nilai-nilai dan tradisi masyarakat yang harus diketahui oleh pihak kepolisian sehingga mereka tahu pada titik mana mereka melindungi dan mengamankan.

Polisi dari masyarakat dan sebagai anak manusia bukan anak binatang, bedanya mereka hanya memakai seragam dan menenteng senjata, senjata dari uang pajak rakyat, maka peluru senjata itu bukan untuk ditembakkan kemasyarakat. Polisi harus berpihak dan berlindung kepada masyarakat bukan berlindung pada ketiak penjajah, pemilik modal atau tirani penguasa. Bangkitlah untuk melawan penindasan dan kezaliman!!!

Makassar, 29 Desember 2011

Salam hormat kami kepada masyarakat indonesia. Kepada kebenaran dan keadilanlah kami berkhidmat.
Wassalamualaiku. Wr.Wb.

BERJUANG MELAWAN LUPA


Bagian 1: Pendidikan dan perselingkuhan mahasiswa dengan akademik FE-UH

Pendidikan adalah proses transformasi nilai-nilai yang mengarahkan umat manusia pada kebenaran dan keadilan serta kemanusiaan. Hadirnya sebuah institusi pendidikan tentunya bukanlah hanya untuk memberikan informasi kepada peserta didiknya tapi bagaimana memberikan cara pandang yang filosofis kepada manusia sebagai peserta didik tentang arti kehidupan.

Fakultas ekonomi unhas sebagai sebuah institusi pendidikan tentunya punya landasan dan tujuan yang jelas. Namun dengan memperhatikan realitas yang terjadi hari ini, kita perlu melihat kembali fakultas ini sebagai sebuah institusi pendidikan yang menjadikan manusianya sebagai manusia atau menjadikan manusianya sebagai robot yang siap untuk dikendalikan dalam perusahaan bisnis. Berubahnya orientasi pendidikan hari ini akan menentukan bagaimana perjalanan manusia Indonesia ke depannya. Bobroknya orientasi sistem pendidikan dengan sebagian tenaga pendidik di institusi ini meniscayakan bobroknya juga hasil dari pendidikan itu sendiri. Sebagaimana yang kita pahami bersama bahwa berhasilnya sebuah pendidikan tergantung kualitas pendidiknya, buku-buku yang dijadikan referensi dan  dukungan lingkungan akademik serta perenungan terhadap segala realitas dari pengetahuan yang disampaikan. Semua orang bisa mendapatkan dan memahami apa yang disampaikan pada pendidikan itu namun tergantung pada orang-orang yang tepat. Terkadang kita akan mendapatkan orang yang cepat memahami apa yang disampaikan oleh guru dan terkadang juga kita mendapatkan orang yang agak sulit memahami langsung apa yang disampaikan oleh seorang guru.

Maraknya kasus manipulasi akademik di institusi ini semakin membuka tabir pengelolaan institusi yang bobrok yang sudah menjadi rahasia umum. Banyaknya “perselingkuhan” yang terjadi dalam dunia akademik semakin memperkuat alasan untuk menolak bentuk pendidkan hari ini di fakultas ekonomi. Perselingkuhan antara birokrasi dengan mahasiswa dari sebagian kelompok yang orang tuanya memiliki harta lebih dan jabatan/kekuasaan tertentu.

Cerita dari beberapa mahasiswa yang risau terhadap kondisi fakultas ekonomi hari ini semakin merisaukan karena bagaimana jadinya nanti mahasiswa yang sudah alumni, yang akan menjadi alumni ataupun dosen-dosen/pegawai yang tidak terlibat kasus ini. Kasus diwisudanya mahasiswa yang tidak jelas status perkuliahannya dan tidak adanya klarifikasi dari pihak birokrasi fakultas ekonomi unhas semakin menguatkan dugaan perselingkuhan birokrasi dengan satu atau lebih diantara mahasiswa. Selain itu mencuatnya kasus salah satu mahasiswa akuntansi yang tidak dikeluarkan nilai ujian skripsi dan berdampak tidak diwisudanya mahasiswa tersebut pada bulan desember tahun 2011 yang lalu. Permasalahan inipun tidak mendapatkan penyelesaian yang jelas. Hal ini semakin menguatkan pandangan bahwa tebang pilih dalam pelayanan dan penyelesaian permasalahan akademik di tingkat mahasiswa.   

Praktek kotor birokrasi dan beberapa mahasiswa fakultas ekonomi unhas ini kemungkinan besar atau sudah menjadi kebiasaan umum sehingga menjadi legal sudah berjalan cukup lama namun dibiarkan begitu saja dan ditutupi untuk tetap mempertahankan citra fakultas ekonomi. Boleh jadi akreditasi fakultas ataupun jurusan ini juga dilakukan dengan cara-cara kotor dan selama ini juga dapat dilihat bahwa baiknya institusi pendidikan ini tergantung pada kerapian arsip dan membiarkan kebobrokan di sistem akademik tetap terjadi.

Cerita-cerita atau gossip yang beredar dikalangan mahasiswa atau praktek kotor itu sudah lama terjadi dan bahkan menurut cerita yang berkembang adalah beberapa pegawai akademik diajak oleh mahasiswa atau orang yang lagi mempunyai urusan dengan akademik, untuk makan di luar dan tempat tertentu ataupun pegawai akademik mengantar mahasiswa ke rumah dosen untuk membantu menghubungkan mahasiswa dan dosen tertentu dalam menyelesaikan masalah akademiknya (pegawai akademik kayak dinas perhubungan atau makelar saja). Cerita lain yang tak kalah aneh adalah adanya dosen yang selalu meminta rokok atau pulsa sama mahasiswa ketika punya urusan akademik, entah itu urus nilai ujian semester, sedang ujian, konsultasi proposal/skripsi, konsultasi pengurusan KRS. Tak tanggung-tanggung nilai material pulsanya per individu adalah 25.000,00 atau 50.000,00, bagaimana ketika di kali banyak mahasiswa. Bagi mereka yang ber”uang” bukanlah masalah, tapi ini menjadi pengrusakan mental mahasiswa. Mahasiswa diajar untuk berpraktek kotor oleh oknum dosen atau pegawai.

Anehnya juga mahasiswa menerima praktek kotor yang dilakukan oleh oknum birokrasi atau dosen tertentu yang dapat memberikan jaminan nilai terurus cepat dan terjamin. Inilah permasalahan karakter mahasiswa yang mau dibangun di institusi pendidikan justru institusi itulah yang menghancurkan sendiri. Keanehan lain adalah kebijakan membawa atau membayar uang atau menanggung konsumsi para penguji dalam ujian proposal atau skripsi yang mengantarkan mahasiswa juga pada kebobrokan moral dan perilaku suap menyuap. 

Pertanyaan sekarang bagi mahasiswa dosen dan sebagian pegawai adalah tetap berkompromi dengan kelakuan kotor tersebut atau bangkit untuk melawan segala system penjajahan di bidang akademik tersebut. Ketika mahasiswa, dosen dan sebagian pegawai hanya berdiam diri menonton fenomena tersebut maka pada dasarnya mereka juga telah melegalisasi praktek-praktek kotor dan perselingkuhan yang terjadi..

Kaleidoskop Hitam Indonesia 2011


(Sebuah ringkasan dari diskusi dengan GEMA Pembebasan Komisariat Unhas)

Pembicara:
David Samjaya (fakultas Pertanian)
Al Hajjar (Ketua GEMA PEMBEBASAN Unhas)
Usman Saleh L (Fakultas Ekonomi)
Waktu dan Tempat: Senin, 2 januari 2012 / Pelataran Baruga Unhas pukul 13.00-15.30 Wita


Negara Indonesia yang dikenal sebagai Negara agraris hari ini telah berubah mengarah pada Negara industri dan masuk  dalam kategori Negara maju. Sistem demokrasi yang dianut Indonesia pun menjadi sebuah patron bagi Negara-negara lain untuk menerapkan sistem demokrasi juga. Sesungguhnya kalau menganalisis lebih jauh tentang Negara ini kita akan mendapatkan bahwa syarat untuk bubarnya Negara Indonesia sudah terpenuhi dan pemerintahan hari ini hanya menjalankan kedaulatan Negara asing yang ada di Indonesia. Jadi Negara ini sudah tidak mempunyai kedaulatan penuh dari rakyatnya. Dan apa yang dijalankan oleh mereka yang mengaku negarawan sebenarnya bukanlah mewakili atau menjalankan kedaulatan rakyat.
Indikator bubarnya Negara ini adalah:
1.        Indonesia adalah Negara tempat pembuangan karena Negara ini tempat berkumpulnya segala produk asing yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia sehingga mengabaikan kreativitas masyarakatnya.
2.         Kemiskinan di Indonesia semakin meningkat walaupun pemerintah terus mengklaim bahwa orang miskin di Indonesia semakin menurun yaitu hanya sekitar 30 juta jiwa pada tahun 2011.
3.        Membaiknya Perekonomian dan kesejahteraan Indonesia yang diukur dari pertumbuhan ekonomi serta mengabaikan pemerataan dan keadilan di dalam masyarakat.
4.        Semakin maraknya konflik perusahaan dengan masyarakat dan mengindikasikan ketidakhadiran pemerintah dalam masyarakat.
5.        Tidak adanya jaminan kepada masyarakat dalam menjalankan keyakinan beragama oleh pemerintah. Adanya kasus penyerangan, pengahancuran pemilik keyakinan tertentu atau pembakaran rumah ibadah.
6.        Falsafah negarawannya adalah karung nasi. Ini ditandai dengan banyaknya kasus korupsi yang melibatkan aparat legislatif, yudikatif dan eksekutif.
7.        Maraknya konflik antara warga dengan warga yang tidak kunjung terselesaikan.
8.        Tumpang tindinya undang-undang yang ada di Negara Indonesia.
9.        Demokrasi kebablasan yang diterapkan di Indonesia.

          Beberapa pandangan yang hadir dalam diskusi tentang Penyebab catatan hitam ini adalah; pertama sistem demokrasi adalah adalah sistem yang gagal karena merupakan buatan manusia yang tidak sempurna dan demokrasi tidak akan membawa kesejahteraan manusia maka sebagai gantinya adalah ideologi islam dengan khilafah islamiahnya. Kedua, demokrasi adalah model yang bagus untuk Negara Indonesia dengan pancasila sebagai acuan karena semua aliran pemikiran keagamaan terakomodasi di dalamya. Ketiga, demokrasi tidak punya tujuan tetapi hanya mempunyai fungsi dan fungsinya adalah mengubah serta memperbaiki kondisi kenegaraan karena demokrasi ini terus berputar. Jadi kalau logika tentang demokrasi tidak punya tujaun, kenapa harus dihadirkan dalam sistem kenegaraan??
          Menyangkut apa yang salah apakah Sistem/regulasi/orang yang ada didalamnya, sekarang bukan itu menjadi permasalahan karena Berbicara sistem berarti berbicara keterkaitan antara sub sistem yang satu dengan yang lain. Di dalam sistem terdapat hukum, aktor, ekonomi, pendidikan, politik dan lain-lain. Jadi kalau melihat Indonesia dan langsung menyalahkan sistem demokrasinya itu adalah pernyataan yang naïf. Jadi permasalahan sekarang adalah permasalahan cara pandang manusianya tentang kehidupan berbangsa dan bernegara. Semua orang punya pandangan atau pengetahuan tentang mengatur sebuah Negara dan yang perlu dilakukan adalah memahamkan bagaimana sebenarnya demokrasi itu dan bagaimana menerapkan prinsip-prinsip kehidupan islam.
Apakah catatan hitam ini salah dari sistem demokrasi? Kalau salah sistem demokrasi kenapa tidak diganti saja dengan sistem khilafah islamiyah? Dalam beberapa pandangan kita akan selalu menyalahkan demokrasi, seharusnya harus dianalisis apakah sistem yang salah ataukah aktor yang manjalankan sistem. Jadi kalau aktor yang kurang mampu mengimplementasikan maka sistem itu akan terganggu. Jadi ketika logika ideologi islam yang dijalankan dan aktornya yang bermasalah maka sama saja sebenarnya sistem itu. Kalau merujuk pada konsep islam tentang Negara dan konsep islam adalah yang sempurna diantara semua konsep yang ada maka Negara mana yang menjadi rujukan sebagai Negara islam yang ideal. Jika arab Saudi sebagai pusat islam dan rujukan, maka hal yang naïf telah terjadi karena Nabi Muhammad tidak pernah memberikan isyarat tentang pendirian kerajaan yang dibentuk manusia dalam islam dan menyuruh manusia untuk berbakti kepada seorang raja yang lalim, yang ada adalah kerajaan Tuhan di muka bumi. Jadi sekarang yang harus dipahami adalah islam itu sebagai nilai bukan sebagai sebuah institusi dan jalan untuk mencapai kursi kekuasaan duniawi.
Logika pembentukan Negara islam yang ditawarkan dengan ideologi islamnya sebagai sistem yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan indonesia yang akan menggantikan sistem demokrasi adalah akan mengalami jalan buntu karena di Indonesia memiliki masyarakat heterogen dengan berbagai model keyakinan, dan kenyataan sekarang adalah masyarakat sering memperhadap-hadapkan keyakinan apalagi dalam islam. Pertanyaan yang akan muncul adalah siapa ulama yang menjadi rujukan untuk menyelesaikan permasalahan dalam masyarakat karena kenyataan adalah sesama ulama pun saling membantah dan terkadang tidak ada toleransi dalam pembantahan sehingga menimbulkan gejolak dalam masyarakat bawah serta diantara mereka pun terjebak pada konsep fikih dan mengabaikan akhlak dan ukhuwah insaniyah..
          Bagaimana defenisi negarawan? Negarawan yang dimaksud adalah orang-orang yang dalam kehidupannya selalu berkhidmat kepada masyarakat karena hanya tunduk dan patuh kepada hukum-hukum Illahi. Di sini negarawan yang dimaksudkan seperti seorang ulama yang hanya tunduk kepada Hukum Illahi. Jadi negarawan hanya meminjam bahasa yang sering mereka (legislatif, eksekutif dan yudikatif) pakai. Jika mereka memang adalah negarawan maka seharusnya mereka hanya berkhidmat kepada rakyat atau  umat manusia bukan berkhidmat pada penjajah atau orang lalim. Negarawan itu pula yang harus berakal, alim, dan adil dalam memperlakukan sesuatu. Seperti itulah negarawan. Jadi dalam sebuah Negara, orang alim tidak mungkin mengikuti orang jahil, orang jahil mengikuti orang jahil, tetapi orang jahillah yang akan mengikuti orang alim.     
Apakah catatan hitam itu sudah legal di Negara kita? Apa masalahnya? Catatan hitam itu menjadi legal karena prinsip-prinsip pengelolaan Negara Indonesia sudah mengarah pada pelepasan tanggungjawab Negara terhadap masyarakatnya. Logika Kebijakan yang dihadirkan bukan lagi untuk menciptakan keadilan sosial tapi keberpihakan dan perselingkuhan pemerintah kepada pihak asing dan pengusaha yang punya kepentingan terhadap sumberdaya yang ada di Indonesia. Perubahan pola kebijakan itu semakin menguatkan bahwa legalisasi pelanggaran terhadap pancasila dan UUD 1945 semakin kuat.
Jika terjadi jurang perbedaan pada basis pengetahuan masyarakat dan orang-orang yang berpendidikan tinggi, maka harus didudukkan kembali basis pengetahuan yang dimiliki antara masyarakat dan kaum intelektual. Pertanyaan kita sekarang adalah apakah basis pengetahuan itu yang sifatnya material saja atau bukan basis material saja? pengetahuan yang tidak dibangun diatas materisalisme akan selalu berbicara masalah kebenaran, keadilan dan kemanusiaan. Selain itu kebenaran adalah mutlak dan tunggal, karena tidak mungkin ada dua atau lebih tentang kebenaran. Kebenaran mutlak itu adalah tuhan dan segala sesuatunya bergantung pada Tuhan. Dan tuhan itu hanya satu bukan dua, tiga, empat, Sembilan puluh sembilan atau lebih dari itu. Karena tuhan itu adalah esensi atau nama Jadi tuhan yang di maksud adalah Dia (Alllah SWT).
dalam Sistem hukum islam, pasti ada pemerataan ekonomi. Bicara sistem hukum islam terkait dengan sistem ekonomi islam banyak pandangan karena pemikiran tentang ekonomi islam adalah hasil ijtihad manusia dalam menafsirkan dan menyimpulkan hukum-hukum Illahi. Jadi konsep kenegaraan, politik, ekonomi, pendidikan dan seluruh aspek kehidupan manusia di dunia merupakan hasil ijtihad para ulama dalam menafsirkan dan menyimpulkan hukum-hukum Illahi sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah dan atau riwayat dari Rasul.
Apakah alasan anda kalau ideologi islam itu tidak tepat?? Kalau bicara soal ideologi berarti kita sudah bicara praksis. Sedangkan kita punya bangunan pengetahuan yang berbeda tentang cara menjalankan apa yang menjadi kebenaran mutlak dalam islam. Yang perlu dibangun pertama adalah basis pengetahuan karena masyarakat umum punya pandangan tersendiri tentang islam yang harus diturunkan dalam wilayah praksis begitu pula kaum intelektual dalam islam. Jadi yang dibangun pertama adalah memberikan persamaan pandangan tentang konsep kenegaraan dalam islam. Masyarakat Indonesia juga adalah masyarakat yang multikultual, maka islam juga harus mengakomodir semua kelompok dalam masyarakat tanpa melihat mereka dari mana tapi melihat mereka sebagai manusia. Ketika menegakkan ideologi islam berarti kita akan melembagakan syariat islam. Dan kalau seperti demikian berarti kita juga akan memenjarakan islam dalam sebuah institusi. Jika kita memahami islam sebagai nilai dan spirit kehidupan maka islam menjadi rahmatan lil ‘alamin, tidak melihat suku, ras, golongan, kaya atau miskin, bodoh atau cerdas, punya jabatan atau tidak, dan segala stratifikasi kehidupan dunia lainnya.


Senin, 19 Desember 2011

Pengakuan Imam Syafi'i















Ketika kulihat telah lewat pada manusia
Berbagai mazhab yang mengarungi lautan kesesatan dan kebodohan
Dengan nama Allah, maka kunaiki perahu yang dapat menyelamatkan
Mereka adalah ahlul bait al-mushtafa penutup para rasul
Aku berpegang teguh kepada tali Allah,
Kepada kepemimpinan mereka
Seperti telah diperintahkan kepada kita
Untuk berpegang teguh kepada tali Allah
Ketika umat beragama terpecah menjadi tujuh puluh kelompok
Melebihi apa yang dijelaskan oleh dalil naqli
Tidak ada yang selamat dari kelompok-kelompok itu,
Kecuali satu kelompok.
Katakanlah kepadaku, kelompok yang menjadi harapan itu
Apakah keluarga Muhammad berada dalam kelompok yang akan hancur
Atau dalam kelompok yang berlepas diri dari mereka,
Katakanlah kepadaku
Jika kamu berkata, “Dalam kelompok yang selamat,”
Maka hanya satu ucapan
Jika kamu berkata, “ dalam kelompok yang akan hancur,”
Maka kamu tidak berlaku adil
Karena pemimpin kaum berasal pada mereka
Aku rela dengan merek, keselamatanku tdak akan hilang dibawah perlindungan mereka
Aku rela mengangkat Ali dan keturunannya sebagai imam
Dan kamu berada dalam kelompok yang akan binasa.
(Imam Syafi’I, dikutip oleh allamah al-Ajili dalam dzakhih al-mal)

Pemberian Perlindungan Kepada Muhammad SAWW


Demi Allah! Kalau ada golongan yang menyerangmu
Aku akan menguburkannya kedalam tanah,
Aku akan melaksanakan perintah yang kamu takutkan
Dan aku akan selalu menghiburmu
Aku akan mengangkatmu sebagai penasehatku
Karena engkau adalah benar
Dan mendapat gelar Al-Amin sebelumnya
Aku tahu bahwa agama ini adalah agama yang terbaik
Dibandngkan dengan agama-agama yang pernah ada sebelumnya.
(Abu Thalib)

Rintihan Perisitwa Karbala












Demi Allah, darah apa yang ditumpahkan dikarbala
Yang tidak mengalir dimuka bumi sampai berhentilah falak
Kuda mana yang menyerang dikegelapan malam
Kepada cucu Rasulullah dan dilanggarlah
Hari dimana pembela islam telah bangkit
Dia menjaga agama Allah ketika ditinggalkan
Dia melihat jalan keburukan telah menjadi panutan
Umat tidak tahu kenbenaran yang harus dijalani
Dan manusia kembali kepada kejahiliyahan
Seolah-olah yang mensyariatkan islam telah berdusta
Islam dipimpin oleh seorang otorian
Berjalan menyebarkan kejahatan
Aku tidak tahu dimana tokoh islam berada
Dan bagaimana yazid bisa menjadi penguasa
Yang memeras khamr dengan unsur-unsurnya dari cercaan
Dari kejelekan watak yang memeras lemak
Jika lafadz tauhid keluar dari lidahnya
Maka pedangnya disamping tauhid menebasnya
Agama darinya mengadukan penyakit
Dan tidak mengadu kepada selain Husain
Dia tidak melihat penyembuhan untuk agama yang hanif
Kecuali dengan penumpahan darahnya di karbala
Kami tidak mendengar penyakit yang tidak ada obatnya
Kecuali dengan jiwa yang menyembuhkannya jika dia hancur
Dengan pengorbanannya islam semerbak menyebarkan petunjuk
Setiap kali kaum muslim mengingatnya
Jiwanya adalah pengorbanan untuk syariat ayahnya
Dengan jiwanya dan keluarganya dan apa yang dimilikinya
Dan dia menyerupai mata pedang yang bersinar
Menyerbu musuh yang mengikutinya.
(Puisi Sayyid Ja’far Hilli)

Tentang Agama












Suatu saat akan datang ketika tak ada yang tertinggal dari Al Qur'an kecuali tulisannya, 
dan tak ada yang tertinggal dari islam kecuali namanya. 
Masjid di hari-hari itu akan sibuk dengan urusan pembangunan tetapi sepi dari bimbingan. 
Orang yang tinggal di dalamnya dan mereka yang mengunjunginya adalah yang terburuk di muka bumi. 
Dari mereka kejahatan akan muncul dan kepada mereka semua kebatilan akan berpaling. 
Apabila seseorang memisahkan diri darinya, mereka akan melemparkannya kembali kesitu; 
dan apabila seseorang melangkah mundur darinya, mereka akan mendorongnya kepadanya. 
Allah maha suci bersabda (dalam sebuah hadis qudsi), 
Aku bersumpah demi Diri-Ku sendiri bahwa Aku akan mengirimkan kepada mereka suatu cobaan (fitnah) dimana orang yang sabar akan kebingungan,” dan ia akan berbuat demikian. 
Kami memohon keampunan Allah dari terantuk karena lalai. 
(Imam Ali Bin Abi Thalib)

Sabtu, 19 November 2011

FILSAFAT ISLAM


Dalam sejarah peradaban Islam, berbagai kedisiplinan ilmu muncul begitu cepat sesuai dengan tahap perkembangan duniawi dan berkembang terus sesuai dengan situasi dan kondisi, sehingga banyak pakar ilmuan dan tokoh-tokoh dalam Islam melahirkan pernik-pernik mutiara untuk dijadikan bahan rujukan oleh Ummat Sekarang dan dikagumi Oleh banyak lawan. Sejarah adalah pengetahuan tentang peristiwa peristiwa masa lampau, sedangkan Filsafat adalah Ilmu tentang berfikir sesuatu apapun untuk mencari kebenaran sesuatu tersebut.

Kalau kita perhatikan defenisi-defenisi yang telah diberikan oleh ahli-ahli filsafat kendatipun defenisi yang mereka berikan itu jauh berbeda-beda, namun dapat kita simpulkan bahwa berfilsafat itu ialah “berfikir”, dengan kata lain” Berfilsafat ialah berfikir sedalam-dalamnya secara bebas, dan teliti. Menurut penulis, seorang muslim boleh berfikir sedalam-dalamnya demi untuk menemukan sebuah kebenaran dengan ketentuan befikir yang tidak keluar dari garis-garis koridor logika dan syar’i. 

Kata filsafat Islam telah lama kita dengar, tetapi apa itu maknanya, lingkup, dan pandangannya, sepertinya masih harus didiskusikan. Oleh karena itu perlu mendiskusikan topik penting, yaitu: (1) Apa itu filsafat Islam? Dengan ini diharapkan pemahamanan kita tentang filsafat Islam dari sudut cita dan fakta bisa menjadi lebih baik dan bermakna.

1.         Apa itu Filsafat Islam?
Dalam buku yang berjudul wacana baru filsafat islam, ada beberapa pandangan tentang istilah filsafat Islam. Ada yang megatakan bahwa Islam tidak pernah dan bisa memiliki filsafat yang independen. Adapun filsafat yang dikembangkan oleh para filosof Muslim adalah pada dasarnya filsafat Yunani, bukan filsafat Islam. Ada lagi yang mengatakan bahwa nama yang tepat untuk itu adalah filsafat Muslim, karena yang terjadi adalah filsafat Yunani yang kemudian diterjemahkan dan dipelajari serta dikembangkan oleh para pemikir Muslim. Ada lagi yang mengatakan bahwa nama yang lebih tepat adalah filsafat Arab, dengan alasan bahwa bahasa yang digunakan dalam karya-karya filosofis mereka adalah bahasa Arab, sekalipun para penulisnya banyak berasal dari Persia, dan nama-nama lainnya seperti filsafat dalam dunia Islam.

Adanya sebutan atau penamaan filsafat Islam (Islamic philosophy), dengan setidaknya 3 alasan. Pertama: Ketika filsafat Yunani diperkenalkan ke dunia Islam, Islam telah mengembangkan sistem teologi yang menekankan keesaan Tuhan dan syari’ah, yang menjadi pedoman bagi siapapun. Begitu dominannya Pandangan tauhid dan syari’ah ini, sehingga tidak ada suatu sistem apapun, termasuk filsafat, dapat diterima kecuali sesuai dengan ajaran pokok Islam tersebut (tawhid) dan pandangan syari’ah yang bersandar pada ajaran tauhid. Oleh karena itu ketika memperkenalkan filsafat Yunani ke dunia Islam, para filosof Muslim selalu memperhatikan kecocokannya dengan pandangan fundamental Islam tersebut, sehingga disadari atau tidak, telah terjadi “pengislaman” filsafat oleh para filosof Muslim.

Kedua, sebagai pemikir Islam, para filosof Muslim adalah pemerhati filsafat yang kritis. Ketika dirasa ada kekurangan yang diderita oleh filsafat Yunani, misalnya, maka tanpa ragu-ragu mereka mengkritiknya secara mendasar. Misalnya, sekalipun Ibn Sina sering dikelompokkan sebagai filosof Peripatetik, namun ia tak segan-segan mengkritik pandangan Aristoteles, kalau dirasa tidak cocok dan menggantikannnya dengan yang lebih baik. Beberapa tokoh lainnya seperti Suhrawardi, Ibn Taymiyyah, juga mengkritik sistem logika Aristoteles.

Ketiga, adalah adanya perkembangan yang unik dalam filsafat islam, akibat dari interaksi antara Islam, sebagai agama, dan filsafat Yunani. Akibatnya para filosof Muslim telah mengembangkan beberapa isu filsafat yang tidak pernah dikembangkan oleh para filosof Yunani sebelumnya, seperti filsafat kenabian, filsafat pergerakan, filsafafat akhlak, mikraj dsb.

Berbeda dengan lingkup filsafat modern, filsafat Islam, sebagaimana yang telah dikembangkan para filosof agungnya, meliputi bidang-bidang yang sangat luas, seperti logika, fisika, matematika dan metafisika yang berada di puncaknya. Seorang filosof tidak akan dikatakan filosof, kalau tidak menguasai seluruh cabang-cabang filosofis yang luas ini. Ketika Ibn Sina menulis al-Syifa’, yang dipandang sebagai karya utama filsafatnya, ia tidak hanya menulis tentang metafisika, tetapi juga tentang logika, matematika dan fisika. Dan ia menulisnya sedeikian lengkap pada setiap bidang tersebut, sehingga kita misalnya memiliki beberapa jilid tentang logika, meliputi pengantar, kategori, analitika priora, analitika posteriora, topika, dialektika, retorika, sopistika dan poetika. Sedangkan untuk matematika, ia menulis beberapa jilid meliputi, aritmatika, geometri, astronomi dan musik. Untuk fisika, ia juga menulis beberapa jilid yang meliputi bidang kosmologi, seperti tentang langit, meteorologi, kejadian dan kehancuran yang menandai semua benda fisik, tentang batu-batuan (minerologi), tumbuh-tumbuhan (botani), hewan (zoologi), anatomi, farmakologi, kedokteran dan psikologi. Dan sebagai puncaknya ia menulis tentang metafisika (al-‘ilm al-ilahi) yang meliputi bidang ketuhanan, malaikat dan akal-akal, dan hubungan mereka dengan dunia fisik yang dibahas dalam bidang fisika.

Pembicaraan tentang lingkup filsafat Islam ini perlu dikemukakan, berhubung banyaknya kesalahpahaman terhadapnya, sehingga filsafat Islam dipahami hanya sejauh ia meliputi bidang-bidang metafisik. Kebanyakan kita hanya tahu Ibn Sina sebagai filosof, dan hanya mempelajari doktrin dan metode filsafatnya. Sedangkan Ibn Sina sebagai ahli kedokteran, ahli fisika, atau dengan kata lain sebagai saintis dan metode-metode ilmiah yang digunakannya sama sekali luput dari perhatian kita. Jarang sekali, kalau tidak dikatakan tidak ada, pemikir filsafat Islam di negeri ini yang pernah meneliti teori-teorinya tentang fisika, psikologi, atau geometri, astronomi dan musiknya. Tidak juga kedokterannya yang sangat dikenal di dunia Barat berkat karya agungnya al-Qanun fi al-Thibb. Hal ini terjadi, karena selama ini filsafat hanya dipahami sebagai disiplin ilmu yang mempelajari hal-hal yang bersifat metafisik, sehingga fisika, matematika, seolah dipandang bukan sebagai disiplin ilmu-ilmu filsafat.         

Satu hal lagi yang perlu didiskusikan dalam mengenal filsafat Islam ini adalah pandangannya yang bersifat integral-holistik. Filsafat Islam mengakui, sebagai sumber ilmu, bukan hanya pencerapan indrawi, tetapi juga persepsi rasional dan pengalaman mistik. Dengan kata lain menjadikan indera, akal dan hati sebagai sumber-sumber ilmu yang sah. Akibatnya terjadilah integrasi di bidang klasifikasi ilmu antara metafisika, fisika dan matematika, dengan berbagai macam divisinya. Demikian juga integrasi terjadi di bidang metodologi dan penjelasan ilmiah. Karena itu filsafat Islam tidak hanya mengakui metode observasi, sebagai metode ilmiah, sebagaimana yang dipahami secara eksklusif dalam sains modern, tetapi juga metode burhani, untuk meneliti entitas-entitas yang bersifat abstrak, ‘irfani, untuk melakukan persepsi spiritual dengan menyaksikan (musyahadah) secara langsung entitas-entitas rohani, yang hanya bisa dianalisa lewat akal, dan terakhir bayani, yaitu sebuah metode untuk memahami teks-teks suci, seperti al-Qur’an dan Hadits. Oleh karena itu, filsafat Islam mengakui keabsahan observasi indrawi, nalar rasional, pengalaman intuitif, dan juga wahyu sebagai sumber-sumber yang sah dan penting bagi ilmu.

Hal ini penting dikemukakan, mengingat selama ini banyak orang yang menolak filsafat dan tasawuf sebagai tidak bermakna. Atau ada juga yang telah merasa menjadi filosof, lalu menyangkal keabsahan tasawuf, dengan alasan bahwa tasawuf bersifat irrasional. Atau ada juga yang telah merasa menjadi Sufi lalu menganggap tak penting filsafat dan sains. Dalam pandangan filsafat Islam yang holistik, ketiga bidang tersebut diakui sebagai bidang yang sah, yang tidak perlu dipertentangkan apa lagi ditolak, karena ketiganya merupakan tiga aspek dari sebuah kebenaran yang sama. Sangat mungkin bahwa ada seorang yang sekaligus saintis, filosof dan Sufi, karena sekalipun indera, akal dan hati bisa dibedakan, tetapi ketiganya terintegrasi dalam sebuah pribadi. Namun, seandainya kita tidak bisa menjadi sekaligus ketiganya, seyogyanya kita tidak perlu menolak keabsahan dari masing-masing bidang tersebut, karena dalam filsafat Islam ketiga unsur tersebut dipandang sama realnya.

Pada saat ini, umat Islam telah dilanda berbagai persoalah ilmiah filosofis, yang datang dari pandangan ilmiah-filosofis Barat yang bersifat sekuler. Berbagai teori ilmiah, dari berbagai bidang, fisika, biologi, psikologi, dan sosiologi, telah, atas nama metode ilmiah, menyerang fondasi-fondasi kepercayaan agama. Tuhan tidak dipandang perlu lagi dibawa-bawa dalam penjelasan ilmiah. Misalnya bagi Laplace (w. 1827), kehadiran Tuhan dalam pandangan ilmiah hanyalah menempati posisi hipotesa. Dan ia mengatakan, sekarang saintis tidak memerlukan lagi hipotesa tersebut, karena alam telah bisa dijelaskan secara ilmiah tanpa harus merujuk kepada Tuhan. Baginya, bukan Tuhan yang telah bertanggung jawab atas keteraturan alam, tetapi adalah hukum alam itu sendiri. Jadi Tuhan telah diberhentikan sebagai pemelihara dan pengatur alam. Demikian juga dalam bidang biologi, Tuhan tidak lagi dipandang sebagai pencipta hewan-hewan, karena menurut Darwin (w. 1881), munculnya spesies-spesies hewan adalah karena mekanisme alam sendiri, yang ia sebut sebagai seleksi alamiah (natural selection). Menurutnya hewan-hewan harus bertransmutasi sendiri agar ia dapat tetap survive, dan tidak ada kaitannya dengan Tuhan. Ia pernah berkata, “kerang harus menciptakan engselnya sendiri, kalau ia mau survive, dan tidak karena campur tangan sebuah agen yang cerdas di luar dirinya. Oleh karena itu dalam pandangan Darwin, Tuhan telah berhenti menjadi pencipta hewan. Dalam bidang psikologi, Freud (w. 1941) telah memandang Tuhan sebagai ilusi. Baginya bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi manusialah yang menciptakan Tuhan. Tuhan, sebagai konsep, muncul dalam pikiran manusia ketika ia tidak sanggup lagi menghadapi tantangan eksternalnya, serti bencana alam dll., maupun tantangan internalnya, ketergantungan psikologis pada figur yang lebih dominan. Sedangkan Emil Durkheim, menyatakan bahwa apa yang kita sebut Tuhan, ternyata adalah Masyarakat itu sendiri yang telah dipersonifikasikan dari nilai-nilai sosial yang ada. Dengan demikian jelaslah bahwa, dalam pandangan sains modern Tuhan tidak memiliki tempat yang spesial, bahkan lama kelamaan dihapus dari wacana ilmiah. 

Tantangan yang lain juga terjadi di bidang lain seperti bidang spiritual, ekonomi, politik, ekologi dll. Tentu saja tantangan seperti ini tidak boleh tanpa kritik, atau respons kritis dan kreatif yang dapat dengan baik menjawab tantangan-tantangan tersebut secara rasional dan elegan, dan tidak semata-mata bersifat dogmatis dan otoriter. Dan di sinilah saya melihat bahwa filsafat Islam bisa berperan sangat aktif dan signifikan.

Berbeda dengan yang dikonsepsikan al-Ghazali, di mana filsafat dipandang sebagai lawan bagi agama, saya melihat filsafat bisa kita jadikan sebagai mitra atau pendukung bagi agama. Dalam keadaan di mana agama mendapat serangan yang gencar dari sains dan filsafat modern, filsafat Islam bisa bertindak sebagai pembela atau tameng bagi agama, dengan cara menjawab serangan sains dan filsafat modern terhadap agama secara filosofis dan rasional. Karena tantangan ilmiah-filosofis harus dijawab juga secara ilmiah-filosofis dan bukan semata-mata secara dogmatis. Dengan keyakinan bahwa Islam adalah agama yang menempatkan akal pada posisi yang terhormat, saya yakin bahwa Islam, pada dasarnya bisa dijelaskan secara rasional dan logis.

Selama ini filsafat dicurigai sebagai disiplin ilmu yang dapat mengancam agama. Ya, memang betul. Apaalagi filsafat yang selama ini kita pelajari bukanlah filsafat Islam, melainkan filsafat Barat yang telah lama tercerabut dari akar-akar metafisiknya. Tetapi kalau kita mempelajari filsafat Islam dan mengarahkannya secara benar, maka filsafat Islam juga adalah sangat potensial untuk menjadi mitra filsafat atau bahkan pendukung agama. Di sini filsafat bisa bertindak sebagai benteng yang melindungi agama dari berbagai ancaman dan serangan ilmiah-filosofis seperti yang dideskripsikan di atas.

Serangan terhadap eksistensi Tuhan, misalnya dapat dijawab dengan berbagai argument adanya Tuhan yang telah banyak dikemukakan oleh para filosof Muslim, dari al-Kindi, Ibn Sina, Ibn Rusyd, M. Taqi Misbah Yazdi dll., Serangan terhadap wahyu bisa dijawab oleh berbagai teori pewahyuan yang telah dikemukakan oleh banyak pemikir Muslim dari al-Ghazali, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Taymiyyah, Ibn Rusyd, Mulla Shadra dll.

Demikian juga serangan terhadap validitas pengalaman mistik dan religius, juga telah dijawab secara mendalam oleh Muhammad Iqbal dalam bukunya Reconstruction of Religiuous Thought in Islam dan Mehdi Ha’iri Yazdi dalam bukunya The Principle of Epistemology in Islamic Philosophy: Knowledge by Presence. Dalam kedua karya ini, Iqbal dan Yazdi telah mencoba menjelaskan secara filosofis tentang realitas pengalaman religius dan mistik, dan berusaha menjadikan pengalaman mistik sebagai salah satu sumber ilmu yang sah. Tentu saja masih banyak hal yang dapat dilakukan filsafat Islam untuk mendukung agama, yang tidak pada tempatnya untuk dijelaskan secara rinci di sini.

Selasa, 24 Mei 2011

Mendadak jadi "Pemadam Kebakaran”


Gerakan Negara islam Indonesia (NII) adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap Negara dengan kekuasaan yang sah dalam kondisi Negara yang sedang berjuang mengembangkan demokrasinya. Gerakan Perlawanan ini mempunyai cita-cita untuk mendirikan Negara yang landasan kehidupan berbangsa dan bernegaranya sesuai dengan prinsip-prinsip islam. 
NII sebagai sebuah gerakan tentunya mempunyai sejarah panjang dalam bermetamorfosa sehingga menghasilkan bentuk yang sering ditampilkan sekarang ini. Gerakan ini menggunakan berbagai cara untuk merekrut anggota diantaranya melalui “pencucian otak” yang sebenarnya menunjukkan ketidakmampuan orang menganalisis apa yang disampaikan orang ,lain, membayar uang, sampai pada baiat dan pelarangan untuk mengungkapkan aktivitas yang mereka jalani kepada orang-orang yang berada di luar lingkungan mereka.  
Gerakan NII yang berbasis di beberapa kampus daerah jawa sebagaimana yang ditengarai oleh aparat keamanan pemerintah tentunya menimbulkan banyak pertanyaan di dalam masyarakat Indonesia. Ada apa dengan kehidupan kampus hari ini dan kenapa yang terjerat gerakan NII adalah dari kalangan mahasiswa, sedemikian hancurnyakah institusi pendidikan tinggi sehingga gerakan NII bisa menjerat mahasiswanya?
Tentunya gerakan ini dikendalikan oleh banyak pihak dan gerakannya sangat rapi sehingga sangat susah dideteksi oleh aparat keamanan. Kondisi ini tentunya membuat pemerintah dan masyarakat menjadi resah dengan gerakan NII. Diskusi mengenai NII mulai dari media-media yang menghadirkan banyak pakar untuk mengulas gerakan ini.
Adanya gerakan NII ini membuat banyak pihak mendadak jadi “Pemadam kebakaran” dalam artian bahwa mulai dari instansi pemerintah, para pakar, orang-orang yang pernah keluar dari barisan NII, hingga masyarakat bawah mengomentari akan keberadaan NII yang mencoba melawan system yang sah di Negara ini. Mencuatnya gerakan NII dipermukaan tentunya memberikan pekerjaan baru untuk menjadi “pemadam kebakaran” bagi semua kalangan yang ada dalam masyarakat. 
Di banyak forum mulai di ruangan birokrasi kampus, ceramah agama, dan ruang-ruang diskusi kita akan melihat tentang analisis dari gerakan ini mulai dari perilaku penyesatan, pengkafiran dan sampai pada permasalahan lain yang dapat ditimbulkannya. Para orang tua, generasi muda maupun pemerintah di minta untuk waspada terhadap gerakan ini apalagi gerakan ini mengatasnamakan islam. Kondisi yang akan terjadi adalah masyarakat akan mewaspadai organisasi-organisasi islam apalagi generasi muda di tengah-tengah kehidupan yang serba modern.  
Adanya gerakan ini patut kita apresiasi karena telah membuka berbagai tabir kehidupan berbangsa diantaranya masalah system pendidikan yang dibangun selama ini karena kondisi ini mengindikasikan bahwa institusi pendidikan gagal membangun karakter manusia Indonesia, masalah ketidakadilan yang muncul dalam masyarakat, ketimpangan, pemerintahan yang sudah tidak mampu menjadi teladan dan pelindung bagi rakyatnya, dan perilaku para elit politik yang mengejar popularitas individu dengan mengorbankan orang banyak. Patut pula kita melihat mencuatnya gerakan ini sebagai konspirasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menghancurkaan organisasi-organisasi perjuangan yang berbasis keagamaan. 
Tapi jangan salah dengan mencuatnya gerakan NII kepermukaan banyak menutupi kasus-kasus lain mulai dari perilaku para elit politik yang terus memperjuangkan kepentingan mereka, kasus penangkapan anggota jaringan terorisme, korupsi yang melilit para elit politik, Sandra menyandra antara eksekutif, legislative¸yudikatif dan partai politik yang terus melanda negeri ini, kasus merpati, permasalahan konflik horizontal yang terjadi di dalam Negara ini sampai pada permasalahan ekonomi yang tidak pernah terselesaikan.  

Tamalanrea, 17 Mei 2011

TANAH UNTUK RAKYAT

Mencermati beberapa kasus sengketa lahan ataupun penggusuran bagi orang-orang kecil di Indonesia yang sangat jauh dari kekuasaan sangat menyedihkan, bagaimana di sebuah Negara yang sangat luas tapi masyarakatnya harus selalu bersedia untuk disingkirkan dari tanahnya. Kasus sengketa lahan antara petani dengan perusahaan di sumatera, jawa dan sulawesi yang sering muncul di media nasional merupakan sebuah ironi di Negara ini. Terlebih lagi kasus-kasus tanah yang tidak pernah terangkat di media massa nasional akhirnya akan berjuang sendiri untuk melawan penggusuran dan perampasan.
Pada khususnya di Kota Makassar seperti kasus tanah di tanjung bayang yang berhadapan dengan perusahaan besar di negeri ini, kasus kampung Bulogading yang berlawanan dengan sebuah perusahaan juga, kasus pasar Terong, kasus tanah di pandang Raya, penggusuran pedagang kaki lima (PKL) di Jln Pettarani dan masih banyak yang lain yang ada disudut-sudut kota sesungguhnya sudah merupakan sebuah pelanggaran yang dilakukan oleh beberapa pihak baik itu pemerintah, individu, maupun institusi, yang sangat ambisisus dalam membangun sebuah kepentingan entah itu kepentingan bisnis maupun pengejaran penghargaan adipura…
Sangat menyedihkan bagi sebuah Negara yang menjunjung tinggi hukum dan hak asasi manusia tetapi merekalah sebenarnya yang menginjak-injak dan menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan.. pemerintah yang seharusnya hadir sebagai pelindung bagi orang-orang yang tidak mampu bersaing dengan para pelaku ekonomi dunia yang sudah berada di kelas menengah ke atas, tapi justru merekalah yang datang menghabisi mereka..
Perusahaan-perusahaan yang hadir dalam masyarakat atau penduduk pribumi juga banyak menghadirkan masalah yang sangat tidak manusiawi misalnya kasus sebuah perusahaan pengembang pariwisata yang hadir dimana dalam melakukan aktivitasnya secara perlahan-lahan mencoba menggusur penduduk pribumi sebagaimana Israel menggusur penduduk palestina dan cara-cara beginipun digunakan oleh perusahaan. Banyaknya penggugatan terhadap tanah-tanah milik penduduk pribumi semakin memperkuat pertanyaan yang muncul misalnya kenapa perusahaan-perusahaan yang baru datang tiba-tiba mengklaim tanah yang ada? Pedagang kaki lima yang sudah lama berjualan tiba-tiba harus digusur dengan berbagai alasan termasuk menjalankan Undang-undang Negara serta peraturan Pemerintah Kota.
Negara yang telah diamanahkan untuk bertanggung jawab dalam memberikan penghidupan yang layak bagi masyarakat miskin dan melindungi mereka tapi justru hadir sebagai momok yang sangat menakutkan dengan semua bentuk alat-alat pressure dalam pemerintahannya. Mereka yang mencoba mempertahankan hidup sehari-hari malah harus terus bersedia untuk digusur dengan dalih ditertibkan demi keamanan dan keindahan kota yang mereka pimpin…
Dengan dalih penertiban dan keindahan kota sebenarnya penghalusan dari istilah penggusuran atau perampasan hak-hak masyarakat yang tidak masuk dalam golongan elit pemerintahan dan pengusaha kelas-kelas atas, karena mereka dianggap tidak mampu memberikan kontribusi besar dalam pembangunan ataukah mereka hanya menjadi beban bagi pemerintah. Inilah menjadi perhatian besar bagi kaum muda yang masih memiliki militansi untuk melawan segala bentuk arogansi pemerintah terhadap masyarakat kecil.
Inilah realita yang harus ditanggung anak-anak bangsa yang hanya mencari sesuap nasi untuk dirinya dan keluarganya diatas bumi ibu pertiwi, mereka tidak bisa hidup tenang dengan penghidupan seadanya yang halal dalam mendapatkannya. Inilah mungkin makna ungkapan kalau didalam pembangunan yang harus dipertahankan adalah orang-orang kuat dan harus disingkirkan adalah orang-orang lemah karena mereka cenderung menjadi beban bagi Negara dan pemerintahnya..
Hadirnya pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini tentunya sangat diharapkan oleh masyarakat kecil, entah dalam bentuk pemberian tempat bagi mereka yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima karena mereka tentunya tidak mampu untuk membeli toko-toko yang ada dipasar modern sebagai tempat mereka beraktivitas dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu regulasi bukan untuk menghancurkan mereka tetapi untuk menyelamatkan mereka. Kalau bukan begitu sudah pasti pemerintah sujud dibawah para pemilik modal dan itulah realita yang terjadi di negeri ini yang kaya raya akan sumber daya.

Pemberontakan terhadap pemimpin yang zalim adalah sebuah keharusan dalam masyarakat yang tercerahkan…..

Usman Saleh La Ede
Tamalanrea, 3 November 2010- diperbaharui tanggal 17 mei 2011

Rabu, 13 April 2011

Untukmu Para Pengkader

"Jikalau raga diciptakan untuk menyongsong kematian,
maka kematian di ujung pedang di jalan Allah
jauh lebih baik dan mulia ketimbang mati di atas ranjang. (Imam Hasan)"

Pengkaderan sebagai proses transformasi nilai-nilai Ilahiah yang suci dan sangat mulia yang dipahami didalam sebuah kehidupan sangatlah penting karena akan membawa dampak jangka panjang bagi kehidupan seseorang. Sedangkan dalam artian jangka pendeknya pengkaderan sebagai proses regenerasi disebuah lembaga..

Pengkaderan di lembaga kemahasiswaan yang seharusnya menjadi ajang untuk menyampaikan spirit perjuangan Illahiah dalam menyempurna serta dalam melawan segala bentuk penindasan, tapi justru disalahgunakan menjadi ajang untuk hura-hura, kekerasan, doktrin yang tidak menyehatkan (baca: menyesatkan) bagi orang-orang yang mengikutinya.

Setidaknya inilah kondisi yang masih terjadi di fakultas ekonomi unhas walaupun sudah berkurang tetapi terus dipertahankan oleh para pengkader musiman yang tidak jelas apa inti dari perbuatannya. Untuk itulah para pengkader harus evaluasi diri didalam melakukan aktivitasnya terhadap orang lain. Pengkaderan sebagai kerja-kerja kenabian sebagaimana yang ditunjukkan oleh semua nabi yang pernah ada dimuka bumi ini yang hanya mengajak manusia pada kebaikan dan kebenaran serta perlawanan terhadap segala bentuk pembodohan yang ada dalam masyarakat..

Para pengkader harus ingat bahwa apa yang mereka telah sampaikan kepada orang lain dan harus mampu dipertanggungjawabkan kepada individu yang dikader, masyarakat umum maupun Tuhan bagi orang-orang yang masih beragama. Pengetahuan itu adalah milik Tuhan dan harus disampaikan bagi kebaikan umat untuk digunakan sebagai perlawanan terhadap aktivitas yang betentangan dengan nilai-nilai Illahiah. Pengetahuan dan kecerdasan yang pernah para pengkader tunjukkan kepada teman-temannya, adik-adiknya harus mampu dipertanggungjawabkan karena jangan sampai pengetahuan itu hanya menjadi sebatas konsep yang tidak pernah dijalankan dan hanya menjadi sampah dalam kepala. Ketika dia menjadi sampah maka tentunya akan busuk sendiri dan tidak berguna lagi.

Isi kepala (Baca: pengetahuan) para pengkader seharusnya lebih kuat dan terus di isi ternyata hanya musiman dan inilah para pengkader musiman yang sangat pragmatis, oportunis (Baca: aktualisasi diri supaya dikatakan cerdas) dan tidak punya orientasi yang jelas dan tentunya hasilnya akan menyesatkan karena pengkader itu sendiri tidak paham apa yang dia sampaikan kepada orang lain. Maka lahirlah para binaannya seperti kelompok ternak yang tidak tahu apa tujuan dari semua rangkaian aktivitas yang mereka lakukan.

Oleh karena itu para pengkader harus memperhatikan dan menjawab banyak pertanyaan: kenapa harus ada pengkaderan?, kenapa pengkaderan sangat lama? Kenapa para pengkader dalam kehidupan sehari-hari hampir tidak sejalan dengan apa yang di dakwahkannya? Kenapa banyak para pengkader di luar kampus mengingkari nilai-nilai pengkaderan yang pernah dijalani bersama? Kenapa banyak para pengkader yang jarang banyak buku? Mereka menyuruh demo tapi mereka sendiri yang tidak menjalankan? idealisme pengkaderan hilang pasca kampus dan menjadi berkompromi dengan keadaan. Inilah sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh seorang pengkader. Pengkaderan bukanlah ketundukan dan kepatuhan pada senior, tapi pengkaderan adalah ketundukan pada nilai-nilai Ilahiah. 

Munculnya pertanyaan-pertanyaan diatas mengindikasikan kita tidak mampu memahami nilai-nilai atau filosofi dan kekuatan ikatan moral yang dibangun dalam lembaga dan komunitas pengkaderan. Karena dalam menjalani pengkaderan para pengkader pasti punya liku-liku ditengah godaan dunia materi yang sangat menggila, antara mementingkan pacar atau pasangan hidup, antara mementingkan orang tua walaupun tidak benar, dan mementingkan perjuangan membebaskan masyarakat dari penindasan dan penyesatan pemikiran hanya untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Perlu dipahami bahwa proses yang begitu panjang dalam pengkaderan menjadikan kita untuk memahami gerak kehidupan yang begitu dalam karena perjuangan. Olehnya itu belajarlah untuk mencintai kehidupan dan perjuangan pembebasan serta pencerahan masyarakat, niscaya hidup akan menjadi lebih hidup.

Kepemimpinan Transformatif


Penguasa adalah pelindung dan rakyat adalah pengikutnya. Ia harus menolong dan menyelamatkan mereka tidak mengeksploitasi dan merusak mereka. Apakah penguasa untuk pelindung rakyat atau rakyat pelindung bagi penguasa??

Ketidakjelasan kondisi kepemimpinan yang akan berpihak terhadap kepentingan masyarakat luas di bangsa ini dan terjadinya kekosongan akan namanya keadilan dan kejujuran didalam kepemimpinan yang terus mewarnai perjalanan berbagai aturan dan sistem hukum yang diberlakukan di Indonesia. Mulai dari ORBA (Orde Baru/Orde Bandit) berkuasa, yang telah menjadi penyebab awal dan mendasar bagi terjadinya krisis pemimpin dan kepemimpinan sampai hari ini. Krisis kepemimpinan di bangsa ini menyangkut sulitnya kita menemukan para pemimpin, terkhusus lagi pada pemimpin formal, yang telah diberi amanah kepemimpinan publik melalui sistem dan proses politik/rekrutmen pemimpin dalam hal ini pemilu, yang mampu dan mau berpikir dan berbuat demi kepentingan kebenaran dan penegakan keadilan bagi seluruh rakyat.

Segala kegagalan pemimpin dan kepemimpinan hingga hari ini justru lebih disebabkan karena para pemimpin telah terperangkap dalam ketidakmampuannya memperlakukan orang lain sebagaimana memperlakukan dirinya sendiri (egois). kepemimpinan yang dibangun sampai hari ini kepemimpinan yang berjarak antara para pemimpin/penguasa dengan rakyatnya. Dalam hal ini, para pemimpin bangsa ini baik pusat maupun daerah beranggapan, bahwa kedekatan dirinya sebagai pemimpin dengan rakyat adalah sesuatu yang akan mengganggu pemenuhan kepentingannya, kecuali segelintir tim suksesnya.

Fenomena wajah kepemimpinan bangsa Indonesia sampai hari ini, membuat para pemangku jabatan dalam hal ini pemimpin/penguasa yang sedang berkuasa cenderung untuk terus mempertahankan kekuasaan yang telah diraihnya dengan segala cara walaupun ia telah gagal dalam membangun masyarakatnya.  Sementara, para elit pemilik modal ekonomi, sosial dan politik yang belum berkuasa, berebutan untuk menjadi penguasa, juga dengan menghalalkan segala cara (Misalnya Abu Rizal Bakrie).

Para pemimpin bangsa Indonesia hari ini sudah tidak mampu untuk keluar dari lingkaran ego diri menuju lingkaran-lingkaran altruisme terus berkembang meluas secara dinamis (ego semesta). Dalam konteks ke Indonesiaan kita terus menyaksikan perkembangan sosial ekonomi masyarakat yang bergerak ke arah lebih buruk dan terus lebih buruk dari masa ke masa. Dan akhirnya, nyaris semua orang menjadi egois, dengan hanya memikirkan keselamatan diri mereka sendiri belaka (lihatlah beberapa fenomena masyarakat yang ada di pinggiran ataupun “masyarakat pinggiran” yang ada ditengah-tengah kota).

Tantangan masa depan kita semua (mahasiswa) sebagai masyarakat yang jauh dari kekuasaan formal saat ini adalah bagaimana kita melakukan transformasi paradigma kepemimpinan yang sangat egois saat ini menjadi kepemimpinan yang memiliki kelapangan dada untuk berjuang untuk kepentingan masyarakat yang dipimpinnya (kepemimpinan transformatif). Bukanlah sekedar menjadi pemimpin yang hanya membutuhkan “kepatuhan bodoh” dari masyarakatnya, yang sangat cepat tersinggung, dan mengeluh kepada masyarakat serta merasa di zalimi saat kritik dialamatkan pada kepemimpinannya yang picik (Rezim SBY-Boediono). 

Untuk itu, masyarakat sekarang, dan hari-hari besok butuh figur kepemimpinan transformatif yang menguasai masalah secara lintas disiplin dan sektor, dengan segala krisis yang hari ini masih eksis di dalamnya. Meminjam bahasanya Marya Kash dalam Kepemimpinan Loyalitas Dan manajemen “pemimpin harus rela menjadi pendengar yang baik, kreatif dan produktif terhadap berbagai aspirasi, kritik dan keluh-kesah rakyatnya”. Untuk kemudian, dapat dianalisis secara cermat, kritis, jujur dan dirumuskan menjadi sebuah sistem dan kebijakan bagi terbangunnya manajemen perubahan ke arah positif. Perubahan ini pertama-tama tentu menyangkut mindset masyarakat di semua lapisannya, terutama di lapisan elitenya, yang lebih banyak muatan negatifnya. Ketika kehadiran sosok kepemimpinan yang transformatif tidak ada, Maka kemakmuran dan keadilan hanya bagi para penguasa, yang memperkaya diri dengan cara-cara yang salah, dan nista. Sementara masyarakat umum akan terus terjebak dalam kemelaratan dan penderitaan yang berkepanjangan Maka kita dalam jangka panjang butuh sebuah revolusi, walaupun kondisi hari ini tampak semakin jauh saja kemungkinan akan terjadinya.

BUNGA, LILIN dan MULUT

Ada yang mengirim bunga ada yang membakarnya,  Ada yang menyalakan lilin ada yang memadamkannya,  Semuanya tersulut dari mulut kebencian. ...